Tampilkan postingan dengan label SISTEM IMUN DAN HEMATOLOGI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SISTEM IMUN DAN HEMATOLOGI. Tampilkan semua postingan

Seputar Luka

Senin, 19 November 2012

PENGERTIAN
Luka adalah rusaknya kesatuan atau komponen jaringan yang secara spesifik terdapat substansi jaringan yang rusak atau hilang.
Adapun efek dari timbulnya luka sebagai berikut:
1. Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ
2. Respon stres simpatis
3. Perdarahan dan pembekuan darah
4. Kontaminasi bakteri
5. Kematian sel


Jenis-jenis luka dan proses terjadinya:
1. Luka insisi (Incised wounds), terjadi karena teriris oleh instrumen yang tajam. Misal yang terjadi akibat pembedahan. Luka bersih (aseptik) biasanya tertutup oleh sutura seterah seluruh pembuluh darah yang luka diikat (Ligasi)
2. Luka memar (Contusion Wound), terjadi akibat benturan oleh suatu tekanan dan dikarakteristikkan oleh cedera pada jaringan lunak, perdarahan dan bengkak.
3. Luka lecet (Abraded Wound), terjadi akibat kulit bergesekan dengan benda lain yang biasanya dengan benda yang tidak tajam.
4. Luka tusuk (Punctured Wound), terjadi akibat adanya benda, seperti peluru atau pisau yang masuk kedalam kulit dengan diameter yang kecil.
5. Luka gores (Lacerated Wound), terjadi akibat benda yang tajam seperti oleh kaca atau oleh kawat.
6. Luka tembus (Penetrating Wound), yaitu luka yang menembus organ tubuh biasanya pada bagian awal luka masuk diameternya kecil tetapi pada bagian ujung biasanya lukanya akan melebar.
7. Luka Bakar (Combustio)


Derajat Kontaminasi terhadap luka sebagai berikut:
1. Clean Wounds (Luka bersih), yaitu luka bedah takterinfeksi yang mana tidak terjadi proses peradangan (inflamasi) dan infeksi pada sistem pernafasan, pencernaan, genital dan urinari tidak terjadi. Luka bersih biasanya menghasilkan luka yang tertutup; jika diperlukan dimasukkan drainase tertutup (misal; Jackson – Pratt). Kemungkinan terjadinya infeksi luka sekitar 1% – 5%.
2. Clean-contamined Wounds (Luka bersih terkontaminasi), merupakan luka pembedahan dimana saluran respirasi, pencernaan, genital atau perkemihan dalam kondisi terkontrol, kontaminasi tidak selalu terjadi, kemungkinan timbulnya infeksi luka adalah 3% – 11%.
3. Contamined Wounds (Luka terkontaminasi), termasuk luka terbuka, fresh, luka akibat kecelakaan dan operasi dengan kerusakan besar dengan teknik aseptik atau kontaminasi dari saluran cerna; pada kategori ini juga termasuk insisi akut, inflamasi nonpurulen. Kemungkinan infeksi luka 10% – 17%.
4. Dirty or Infected Wounds (Luka kotor atau infeksi), yaitu terdapatnya mikroorganisme pada luka.


Berdasarkan kedalaman dan luasnya luka, dibagi menjadi :
Stadium I : Luka Superfisial (“Non-Blanching Erithema) : yaitu luka yang terjadi pada lapisan epidermis kulit.
Stadium II : Luka “Partial Thickness” : yaitu hilangnya lapisan kulit pada lapisan epidermis dan bagian atas dari dermis. Merupakan luka superficial dan adanya tanda klinis seperti abrasi, blister atau lubang yang dangkal.
Stadium III : Luka “Full Thickness” : yaitu hilangnya kulit keseluruhan meliputi kerusakan atau nekrosis jaringan subkutan yang dapat meluas sampai bawah tetapi tidak melewati jaringan yang mendasarinya. Lukanya sampai pada lapisan epidermis, dermis dan fasia tetapi tidak mengenai otot. Luka timbul secara klinis sebagai suatu lubang yang dalam dengan atau tanpa merusak jaringan sekitarnya.
Stadium IV : Luka “Full Thickness” yang telah mencapai lapisan otot, tendon dan tulang dengan adanya destruksi/kerusakan yang luas.
Menurut waktu penyembuhan luka dibagi menjadi :
1. Luka akut : yaitu luka dengan masa penyembuhan sesuai dengan konsep penyembuhan yang telah disepakati.
2. Luka kronis yaitu luka yang mengalami kegagalan dalam proses penyembuhan, dapat karena faktor eksogen dan endogen.


TAHAP-TAHAP PENYEMBUHAN LUKA
Tubuh secara normal akan berespon terhadap cedera dengan jalan “proses peradangan”, yang dikarakteristikkan dengan lima tanda utama: bengkak (swelling), kemerahan (redness), panas (heat), Nyeri (pain) dan kerusakan fungsi (impaired function). Proses penyembuhannya mencakup beberapa fase :
1. Fase Inflamasi
Fase inflamasi adalah adanya respon vaskuler dan seluler yang terjadi akibat perlukaan yang terjadi pada jaringan lunak. Tujuan yang hendak dicapai adalah menghentikan perdarahan dan membersihkan area luka dari benda asing, sel-sel mati dan bakteri untuk mempersiapkan dimulainya proses penyembuhan. Pada awal fase ini kerusakan pembuluh darah akan menyebabkan keluarnya platelet yang berfungsi sebagai hemostasis. Platelet akan menutupi vaskuler yang terbuka (clot) dan juga mengeluarkan “substansi vasokonstriksi” yang mengakibatkan pembuluh darah kapiler vasokonstriksi. Selanjutnya terjadi penempelan endotel yang akan menutup pembuluh darah. Periode ini berlangsung 5-10 menit dan setelah itu akan terjadi vasodilatasi kapiler akibat stimulasi saraf sensoris (Local sensory nerve endding), local reflex action dan adanya substansi vasodilator (histamin, bradikinin, serotonin dan sitokin). Histamin juga menyebabkan peningkatan permeabilitas vena, sehingga cairan plasma darah keluar dari pembuluh darah dan masuk ke daerah luka dan secara klinis terjadi oedema jaringan dan keadaan lingkungan tersebut menjadi asidosis.
Secara klinis fase inflamasi ini ditandai dengan : eritema, hangat pada kulit, oedema dan rasa sakit yang berlangsung sampai hari ke-3 atau hari ke-4.
2. Fase Proliferatif
Proses kegiatan seluler yang penting pada fase ini adalah memperbaiki dan menyembuhkan luka dan ditandai dengan proliferasi sel. Peran fibroblas sangat besar pada proses perbaikan yaitu bertanggung jawab pada persiapan menghasilkan produk struktur protein yang akan digunakan selama proses reonstruksi jaringan.
Pada jaringan lunak yang normal (tanpa perlukaan), pemaparan sel fibroblas sangat jarang dan biasanya bersembunyi di matriks jaringan penunjang. Sesudah terjadi luka, fibroblas akan aktif bergerak dari jaringan sekitar luka ke dalam daerah luka, kemudian akan berkembang (proliferasi) serta mengeluarkan beberapa substansi (kolagen, elastin, hyaluronic acid, fibronectin dan proteoglycans) yang berperan dalam membangun (rekontruksi) jaringan baru. Fungsi kolagen yang lebih spesifik adalah membentuk cikal bakal jaringan baru (connective tissue matrix) dan dengan dikeluarkannya substrat oleh fibroblas, memberikan pertanda bahwa makrofag, pembuluh darah baru dan juga fibroblas sebagai kesatuan unit dapat memasuki kawasan luka. Sejumlah sel dan pembuluh darah baru yang tertanam didalam jaringan baru tersebut disebut sebagai jaringan “granulasi”.
Fase proliferasi akan berakhir jika epitel dermis dan lapisan kolagen telah terbentuk, terlihat proses kontraksi dan akan dipercepat oleh berbagai growth faktor yang dibentuk oleh makrofag dan platelet.
3. Fase Maturasi
Fase ini dimulai pada minggu ke-3 setelah perlukaan dan berakhir sampai kurang lebih 12 bulan. Tujuan dari fase maturasi adalah ; menyempurnakan terbentuknya jaringan baru menjadi jaringan penyembuhan yang kuat dan bermutu. Fibroblas sudah mulai meninggalkan jaringan granulasi, warna kemerahan dari jaringa mulai berkurang karena pembuluh mulai regresi dan serat fibrin dari kolagen bertambah banyak untuk memperkuat jaringan parut. Kekuatan dari jaringan parut akan mencapai puncaknya pada minggu ke-10 setelah perlukaan.
Untuk mencapai penyembuhan yang optimal diperlukan keseimbangan antara kolagen yang diproduksi dengan yang dipecahkan. Kolagen yang berlebihan akan terjadi penebalan jaringan parut atau hypertrophic scar, sebaliknya produksi yang berkurang akan menurunkan kekuatan jaringan parut dan luka akan selalu terbuka.
Luka dikatakan sembuh jika terjadi kontinuitas lapisan kulit dan kekuatan jaringan parut mampu atau tidak mengganggu untuk melakukan aktifitas normal. Meskipun proses penyembuhanluka sama bagi setiap penderita, namun outcome atau hasil yang dicapai sangat tergantung pada kondisi biologis masing-masing individu, lokasi serta luasnya luka. Penderita muda dan sehat akan mencapai proses yang cepat dibandingkan dengan kurang gizi, diserta penyakit sistemik (diabetes mielitus).


FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYEMBUHAN LUKA
1. Usia
Semakin tua seseorang maka akan menurunkan kemampuan penyembuhan jaringan
2. Infeksi
Infeksi tidak hanya menghambat proses penyembuhan luka tetapi dapat juga menyebabkan kerusakan pada jaringan sel penunjang, sehingga akan menambah ukuran dari luka itu sendiri, baik panjang maupun kedalaman luka.
3. Hipovolemia
Kurangnya volume darah akan mengakibatkan vasokonstriksi dan menurunnya ketersediaan oksigen dan nutrisi untuk penyembuhan luka.
4. Hematoma
Hematoma merupakan bekuan darah. Seringkali darah pada luka secara bertahap diabsorbsi oleh tubuh masuk kedalam sirkulasi. Tetapi jika terdapat bekuan yang besar hal tersebut memerlukan waktu untuk dapat diabsorbsi tubuh, sehingga menghambat proses penyembuhan luka.
5. Benda asing
Benda asing seperti pasir atau mikroorganisme akan menyebabkan terbentuknya suatu abses sebelum benda tersebut diangkat. Abses ini timbul dari serum, fibrin, jaringan sel mati dan lekosit (sel darah merah), yang membentuk suatu cairan yang kental yang disebut dengan nanah (“Pus”).
6. Iskemia
Iskemi merupakan suatu keadaan dimana terdapat penurunan suplai darah pada bagian tubuh akibat dari obstruksi dari aliran darah. Hal ini dapat terjadi akibat dari balutan pada luka terlalu ketat. Dapat juga terjadi akibat faktor internal yaitu adanya obstruksi pada pembuluh darah itu sendiri.
7. Diabetes
Hambatan terhadap sekresi insulin akan mengakibatkan peningkatan gula darah, nutrisi tidak dapat masuk ke dalam sel. Akibat hal tersebut juga akan terjadi penurunan protein-kalori tubuh.
8. Pengobatan
• Steroid : akan menurunkan mekanisme peradangan normal tubuh terhadap cedera
• Antikoagulan : mengakibatkan perdarahan
• Antibiotik : efektif diberikan segera sebelum pembedahan untuk bakteri penyebab kontaminasi yang spesifik. Jika diberikan setelah luka pembedahan tertutup, tidak akan efektif akibat koagulasi intravaskular.


PERAWATAN LUKA
Dressing/Pembalutan
Tujuan :
1. memberikan lingkungan yang memadai untuk penyembuhan luka
2. absorbsi drainase
3. menekan dan imobilisasi luka
4. mencegah luka dan jaringan epitel baru dari cedera mekanis
5. mencegah luka dari kontaminasi bakteri
6. meningkatkan hemostasis dengan menekan dressing
7. memberikan rasa nyaman mental dan fisik pada pasien


ALAT DAN BAHAN BALUTAN UNTUK LUKA
Bahan untuk Membersihkan Luka
• Alkohol 70%
• Aqueous and tincture of chlorhexidine gluconate (Hibitane)
• Aqueous and tincture of benzalkonium chloride (Zephiran Cloride)
• Hydrogen Peroxide
• Natrium Cloride 0.9%
Bahan untuk Menutup Luka
• Verband dengan berbagai ukuran
Bahan untuk mempertahankan balutan
• Adhesive tapes
• Bandages and binders


KOMPLIKASI DARI LUKA
a. Hematoma (Hemorrhage)
Perawat harus mengetahui lokasi insisi pada pasien, sehingga balutan dapat diinspeksi terhadap perdarahan dalam interval 24 jam pertama setelah pembedahan.
b. Infeksi (Wounds Sepsis)
Merupakan infeksi luka yang sering timbul akibat infeksi nosokomial di rumah sakit. Proses peradangan biasanya muncul dalam 36 – 48 jam, denyut nadi dan temperatur tubuh pasien biasanya meningkat, sel darah putih meningkat, luka biasanya menjadi bengkak, hangat dan nyeri.
Jenis infeksi yang mungkin timbul antara lain :
• Cellulitis merupakan infeksi bakteri pada jaringan
• Abses, merupakan infeksi bakteri terlokalisasi yang ditandai oleh : terkumpulnya pus (bakteri, jaringan nekrotik, Sel Darah Putih).
• Lymphangitis, yaitu infeksi lanjutan dari selulitis atau abses yang menuju ke sistem limphatik. Hal ini dapat diatasi dengan istirahat dan antibiotik.
c. Dehiscence dan Eviscerasi
Dehiscence adalah rusaknya luka bedah
Eviscerasi merupakan keluarnya isi dari dalam luka
d. Keloid
Merupakan jaringan ikat yang tumbuh secara berlebihan. Keloid ini biasanya muncul tidak terduga dan tidak pada setiap orang.

Luka Lecet
Luka lecet adalah kerusakan permukaan kulit yang  biasanya disebabkan oleh gesekan kulit dengan benda kasar. Tampakan luka kasar, terdapat bintik-bintik kemerahan dan disertai rasa nyeri.
Penanganan:
  1. BLS*
  2. Bersihkan luka dengan air mengalir
  3. Beri larutan antiseptik (misal: betadine)
  4. Tutup luka dengan kasa steril, lalu plester atau perban untuk menguatkan
Luka iris
Luka iris adalah kerusakan permukaan kulit yang biasanya disebakan oleh irisan benda tajam seperti pisau. Tampakan luka lurus, memanjang, jaringan kulit disekitar luka tidak mengalami kerusakan disertai perdarahan dan rasa nyeri.
Penanganan:
  1. BLS*
  2. Bersihkan luka dengan air mengalir
  3. Beri larutan antiseptik jika perlu (misal luka panjang dan dalam)
  4. Tutup luka dengan plester kupu-kupu/ plester biasa (misal: handsoplast)
Bila curiga ada infeksi tetanus (teriris pisau karatan/ luka terkontaminasi) segera periksakan ke dokter atau pihak medis terdekat.
Luka tertutup
Luka tertutup ada 2 jenis: Contusio dan Hematoma
  1. Contusio adalah kerusakan jaringan dibawah kulit, terlihat kemerahan dan menonjol jika dilihat dari luar.
  2. Hematoma adalah kerusakan jaringan dibawah kulit diserta perdarahan (darah membeku) sehingga terlihat warna biru kehitaman jika dilihat dari luar.
Prinsip Penanganan Luka Tertutup
  • R: Rest –> istirahatkan bagian luka dan lepaskan dari benda-benda yang menekan
  • I: Ice –> kompres luka dengan air es untuk mendinginkan jaringan yang cedera dan mengurangi rasa nyeri
  • C: Compression –> tekan bagian luka dengan balutan untuk mencegah perdarahan lebih jauh ke dalam jaringan
  • E: Elevation –> elevasi/ angkat bagian yang luka lebih tinggi dari jantung untuk mengurangi aliran darah ke luka
Pada hematoma penggunaan es diganti dengan air hangat, karena pada hematoma terdapat darah yang membeku sehingga penggunaan air hangat akan membantu melancarkan aliran darah.
*BLS (Basic Life Support) adalah penanganan hidup dasar meliputi SRSABC atau SRSCAB, digunakan untuk memastikan korban tidak mengalami gangguan jalan nafas, pernafasan dan henti jantung.

Proses Embriologi

Sabtu, 02 Juni 2012

Seputar Leukosit

Selasa, 28 Februari 2012

Leukosit adalah sel darah Yang mengendung inti, disebut juga sel darah putih. Didalam darah manusia, normal didapati jumlah leukosit rata-rata 5000-9000 sel/mm3, bila jumlahnya lebih dari 12000, keadaan ini disebut leukositosis, bilakurang dari 5000 disebut leukopenia. Dilihat dalam mikroskop cahaya maka sel darah putih mempunyai granula spesifik (granulosit), yang dalam keadaan hidup berupa tetesan setengah cair, dalam sitoplasmanya dan mempunyai bentuk inti yang bervariasi, Yang tidak mempunyai granula, sitoplasmanya homogen dengan inti bentuk bulat atau bentuk ginjal. Terdapat dua jenis leukosit agranuler : linfosit sel kecil, sitoplasma sedikit; monosit sel agak besar mengandung sitoplasma lebih banyak. Terdapat tiga jenis leukosir granuler: Neutrofil, Basofil, dan Asidofil (atau eosinofil) yang dapat dibedakan dengan afinitas granula terhadap zat warna netral basa dan asam. Granula dianggap spesifik bila ia secara tetap terdapat dalam jenis leukosit tertentu dan pada sebagian besar precursor (pra zatnya).

Leukosit mempunyai peranan dalam pertahanan seluler dan humoral organisme terhadap zat-zat asingan. Leukosit dapat melakukan gerakan amuboid dan melalui proses diapedesis lekosit dapat meninggalkan kapiler dengan menerobos antara sel-sel endotel dan menembus kedalam jaringan penyambung. Jumlah leukosit per mikroliter darah, pada orang dewasa normal adalah 4000-11000, waktu lahir 15000-25000, dan menjelang hari ke empat turun sampai 12000, pada usia 4 tahun sesuai jumlah normal. Variasi kuantitatif dalam sel-sel darah putih tergantung pada usia. waktu lahir, 4 tahun dan pada usia 14 -15 tahun persentase khas dewasa tercapai. Bila memeriksa variasi Fisiologi dan Patologi sel-sel darah tidak hanya persentase tetapi juga jumlah absolut masing-masing jenis per unit volume darah harus diambil.



1. Neutrofil
Neutrofil berkembang dalam sum-sum tulang dikeluarkan dalam sirkulasi, selsel ini merupakan 60 -70 % dari leukosit yang beredar. Garis tengah sekitar 12 um, satu inti dan 2-5 lobus. Sitoplasma yang banyak diisi oleh granula-granula spesifik (0;3-0,8um) mendekati batas resolusi optik, berwarna salmon pinkoleh campuran jenis romanovky. Granul pada neutrofil ada dua :
  • Azurofilik yang mengandung enzym lisozom dan peroksidase.
  • Granul spesifik lebih kecil mengandung fosfatase alkali dan zat-zat bakterisidal (protein Kationik) yang dinamakan fagositin.
Neutrofil jarang mengandung retikulum endoplasma granuler, sedikit mitokonria, apparatus Golgi rudimenter dan sedikit granula glikogen. Neutrofil merupakan garis depan pertahanan seluler terhadap invasi jasad renik, menfagosit partikel kecil dengan aktif. Adanya asam amino D oksidase dalam granula azurofilik penting dalam penceran dinding sel bakteri yang mengandung asam amino D. Selama proses fagositosis dibentuk peroksidase. Mielo peroksidase yang terdapat dalam neutrofil berikatan dengan peroksida dan halida bekerja pada molekultirosin dinding sel bakteri dan menghancurkannya.
Dibawah pengaruh zat toksik tertentu seperti streptolisin toksin streptokokus membran granula-granula neutrofil pecah, mengakibatkan proses pembengkakan diikuti oleh aglutulasiorganel- organel dan destruksi neutrofil. Neotrofil mempunyai metabolisme yang sangat aktif dan mampu melakukan glikolisis baik secara arrob maupun anaerob. Kemampuan nautropil untuk hidup dalam lingkungan anaerob sangat menguntungkan, karena mereka dapat membunuh bakteri dan membantu membersihkan debris pada jaringan nekrotik. Fagositosis oleh neutrfil merangsang aktivitas heksosa monofosfat shunt, meningkatkan
glicogenolisis.

2. EOSINOFIL
Jumlah eosinofil hanya 1-4 % leukosit darah, mempunyai garis tengah 9um (sedikit lebih kecil dari neutrofil). Inti biasanya berlobus dua, Retikulum endoplasma mitokonria dan apparatus Golgi kurang berkembang. Mempunyai granula ovoid yang dengan eosin asidofkik, granula adalah lisosom yang mengandung fosfatae asam, katepsin, ribonuklase, tapi tidak mengandung lisosim. Eosinofil mempunyai pergerakan amuboid, dan mampu melakukan fagositosis, lebilebih lambat tapi lebih selektif dibanding neutrifil. Eosinofil memfagositosis komplek antigen dan anti bodi, ini merupakan fungsi eosinofil untuk melakukan fagositosis selektif terhadap komplek antigen dan antibody. Eosinofil mengandung profibrinolisin, diduga berperan mempertahankan darah dari pembekuan, khususnya bila keadaan cairnya diubah oleh proses-proses Patologi. Kortikosteroid akan menimbulkan penurunan jumlah eosinofil darah dengan cepat.

3. BASOFIL
Basofil jumlahnya 0-% dari leukosit darah, ukuran garis tengah 12um, inti satu, besar bentuk pilihan ireguler, umumnya bentuk huruf S, sitoplasma basofil terisi granul yang lebih besar, dan seringkali granul menutupi inti, granul bentuknya ireguler berwarna metakromatik, dengan campuran jenis Romanvaki tampak lembayung. Granula basofil metakromatik dan mensekresi histamin dan heparin, dan keadaan tertentu, basofil merupakan sel utama pada tempat peradangan ini dinamakan hypersesitivitas kulit basofil. Hal ini menunjukkan basofil mempunyai hubungan kekebalan.

4. LIMFOSIT
Limfosit merupakan sel yang sferis, garis tengah 6-8um, 20-30% leukosit darah.Normal, inti relatifbesar, bulat sedikit cekungan pada satu sisi, kromatin inti padat, anak inti baru terlihat dengan electron mikroskop. Sitoplasma sedikit sekali, sedikit basofilik, mengandung granula-granula azurofilik. Yang berwarna ungu dengan Romonovsky mengandung ribosom bebas dan poliribisom. Klasifikasi lainnya dari limfosit terlihat dengan ditemuinya tanda-tanda molekuler khusus pada permukaan membran sel-sel tersebut. Beberapa diantaranya membawa reseptos seperti imunoglobulin yang mengikat antigen spesifik pada membrannya. 
Lirnfosit dalam sirkulasi darah normal dapat berukuran 10-12um ukuran yang lebih besar disebabkan sitoplasmanya yang lebih banyak. Kadang-kadang disebut dengan limfosit sedang. Sel limfosit besar yang berada dalam kelenjar getah bening dan akan tampak dalam darah dalam keadaan Patologis, pada sel limfosit besar ini inti vasikuler dengan anak inti yang jelas. Limfosit-limfosit dapat digolongkan berdasarkan asal, struktur halus, surface markers yang berkaitan dengan sifat imunologisnya, siklus hidup dan fungsi.

5. MONOSIT
Merupakan sel leukosit yang besar 3-8% dari jumlah leukosit normal, diameter 9-10 um tapi pada sediaan darah kering diameter mencapai 20um, atau lebih. Inti biasanya eksentris, adanya lekukan yang dalam berbentuk tapal kuda. Kromatin kurang padat, susunan lebih fibriler, ini merupakan sifat tetap momosit Sitoplasma relatif banyak dengan pulasan wrigh berupa bim abu-abu pada sajian kering. Granula azurofil, merupakan lisosom primer, lebih banyak tapi lebih kecil. Ditemui retikulim endoplasma sedikit. Juga ribosom, pliribosom sedikit, banyak mitokondria. Apa ratus Golgi berkembang dengan baik, ditemukan mikrofilamen dan mikrotubulus pada daerah identasi inti.
Monosit ditemui dalam darah, jaingan penyambung, dan rongga-rongga tubuh. Monosit tergolong fagositik mononuclear (system retikuloendotel) dan mempunyai tempat-tempat reseptor pada permukaan membrannya. Untuk imunoglobulin dan komplemen. Monosit beredar melalui aliran darah, menembus dinding kapiler masuk kedalam jaringan penyambung. DaIam darah beberapa hari. Dalam jaringan bereaksi dengan limfosit dan memegang peranan penting dalam pengenalan dan interaksi sel-sel immunocmpetent dengan antigen.

PERKEMBANGAN LIMFOSlT DALAM PROSES IMMUN
Seperti kita ketahui bahwa limfosit yang bersikulasi terutama berasal dari timus dan organ limfoid perifer, limpa, limfonodus, tonsil dan sebagainya. Akan tetapi mungkin semua sel pregenitor limfosit berasal dari sum-sum tulang, beberapa diantara limfositnya yang secara relatif tidak mengalami diferensiasi ini bermigrasi ke timus, lalu memperbanyak diri, disini sel limfosit ini memperoleh sifat limfosit T, kemudian dapat masuk kembali kedalam aliran darah, kembali kedalam sum-sum tulang atau ke organ limfoid perifer dan dapat hidup beberapa bulan atau tahun.
Sel-sel T bertanggung jawab terhadap reaksi immune seluler dan mempunyai reseptor permukaan yang spesifik untuk mengenal antigen asing. Limfosit lain tetap diam disum-sum tulang berdiferensiasi menjadi limfosit B berdiam dan berkembang didalam kompertemenya sendiri. Sel B bertugas untuk memproduksi antibody humoral antibody response yang beredar dalam peredaran darah dan mengikat secara khusus dengan antigen asing yang menyebabkan antigen asing tersalut antibody, kompleks ini mempertinggi fagositosis, lisis sel dan sel pembunuh (killer sel atau sel K) dari organisme yang menyerang. Sel T dan sel B secara marfologis hanya dapat dibedakan ketika diaktifkan oleh antigen. Tahap akhir dari diferensiasi sel-sel B yang diaktifkan berwujud sebagai sel plasma. Sel plasma mempunyai retikulum endoplasma kasar yang luas yang penuh dengan molekul-molekul antibody, sel T yang diaktifkan mempunyai sedikit endoplasma yang kasar tapi penuh dengan ribosom bebas.

Sel darah merah atau lebih dikenal sebagai eritrosit memiliki fungsi utama untuk mengangkut hemoglobin, dan seterusnya membawa oksigen dari paru-paru menuju jaringan. Jika hemoglobin ini bebas dalam plasma, kurang lebih 3 persennya bocor melalui membran kapiler masuk ke dalam ruang jaringan atau melalui membran glomerolus pada ginjal terus masuk dalam saringan glomerolus setiap kali darah melewati kapiler. Oleh karena itu, agar hemoglobin tetap berada dalam aliran darah, maka ia harus tetap berada dalam sel darah merah. Dalam minggu-minggu pertama kehidupan embrio, sel-sel darah merah primitif yang berinti diproduksi dalam yolk sac. Selama pertengahan trimester masa gestasi, hepar dianggap sebagai organ utama untuk memproduksi eritrosit, walaupun terdapat juga eritrosit dalam jumlah cukup banyak dalam limpa dan limfonodus. Lalu selama bulan terakhir kehamilan dan sesudah lahir, sel-sel darah merah hanya diproduksi sumsum tulang.
Pada sumsum tulang terdapat sel-sel yang disebut sel stem hemopoietik pluripoten, yang merupakan asal dari seluruh sel-sel dalam darah sirkulasi. Sel pertama yang dapat dikenali dari rangkaian sel darah merah adalah proeritroblas. Kemudian setelah membelah beberapa kali, sel ini menjadi basofilik eritroblas pada saat ini sel mengumpulkan sedikit sekali hemoglobin. Pada tahap selanjutnya hemoglobin menekan nukleus sehingga menjadi kecil, tetapi masih memiliki sedikit bahan basofilik, disebut retikulosit. Kemudian setelah bahan basofilik ini benar-benar hilang, maka terbentuklah eritrosit matur (Guyton&Hall Fisiologi Kedokteran Edisi 9:529).

Hemoglobin terdiri dari 4 rantai polpeptida globin yang berikatan secara non-kovalen, yang masing-masing mengandung sebuah grup heme (molekul yang mengandung Fe) dan sebuah “oxygen binding site”. Dua pasang rantai globin yg berbeda membtk struktur tetramerik dengan sebuah “heme moiety” di pusat (center). Molekul heme penting bagi RBC untuk menangkap O2 diparu-paru dan membawanya keseluruh tubuh. Protein Hb lengkap dapat membawa 4 molekul O2 sekaligus. O2 yang berikatan dengan Hb memberi warna darah merah cerah. Konsentrasi sel-sel darah merah dalam darah pada pria normal 4,6-6,2 juta/mm3, pada perempuan 4,2-5,4 juta/mm3, pada anak-anak 4,5-5,1 juta/mm3. Dan konsentrasi hemoglobin pada pria normal 13-18 g/dL, pada perempuan 12-16 g/dL, pada anak-anak 11,2-16,5 g/dL (Kamus Kedokteran Dorland, edisi 29).

Dalam keadaan normal, sel darah merah atau eritrosit mempunyai waktu hidup 120 hari didalam sirkulasi darah, Jika menjadi tua, sel darah merah akan mudah sekali hancur atau robek sewaktu sel ini melalui kapiler terutama sewaktu melalui limpa. penghancuran sel darah merah bisa dipengaruhi oleh faktor intrinsik seperti :genetik, kelainan membran, glikolisis, enzim, dan hemoglobinopati, sedangkan faktot ekstrinsik : gangguan sistem imun, keracunan obat, infeksi seperti akibat plasmodium Jika suatu penyakit menghancurkan sel darah merah sebelum waktunya (hemolisis), sumsum tulang berusaha menggantinya dengan mempercepat pembentukan sel darah merah yang baru, sampai 10 kali kecepatan normal. Jika penghancuran sel darah merah melebihi pembentukannya, maka akan terjadi anemia hemolitik.
(Guyton&Hall Fisiologi Kedokteran Edisi 9 :61).
 
Fungsi utama eritrosit adalah untuk pertukaran gas yang membawa oksigen dari paru menuju ke jaringan tubuh dan membawa karbondioksida (CO) dari jaringan tubuh ke paru.
          Eritrosit tidak mempunyai inti sel tetapi mengandung beberapaorganel dalam sitoplasma. Sitoplasma dalam eritrosit berisi hemoglobin yang mengandung zat besi (Fe) sehingga dapat mengikat oksigen.
        Eritrosit berbentuk bikonkaf dan berdiameter 7-8 mikron. Bentuk bikonkaf tersebut menyebabkan eritrosit bersifat fleksibel sehingga dapat melewatipembuluh darah yang sangat kecil dengan baik. Bentuk eritrosit pada mikroskop biasanya tampak bulat berwarna merah dan dibagian tengahnya tampak lebih pucat, atau disebut (central pallor) diameter 1/3 dari keseluruhan diameter eritrosit.

                   Eritrosit berjumlah paling banyak diantara sel-sel darah lainnya. Dalam satu milliliter darah terdapat kira-kira 4,5 – 6 juta eritrosit, oleh sebab itu darah berwarna merah. Eritrosit normal berukuran 6 – 8 Nm atau 80 – 100 fL (femloliter). Bila MCV kurang dari 80 fL disebut (mikrositik) dan jika lebih dari 100fL disebut (makrositik).
Kelainan Eritrosit
Kelainan eritrosit dapat digolongkan menjadi :
1)      Kelainan berdasarkan ukuran eritrosit
Ukuran normal eritrosit antara 6,2 – 8,2 Nm (normosit)
Kelainan berdasarkan ukuran:
a)      Makrosit
      Ukuran eritrosit yang lebih dari 8,2 Nm terjadi karena pematangan inti eritrosit terganggu, dijumpai pada defisiensi vitamin B₁₂ atau asam folat.
Penyebab lainnya adalahkarena rangsangan eritropoietin yang berakibat meningkatkatnya sintesa hemoglobin dan meningkatkan pelepasan retikulosit kedalam sirkulasi darah. Sel ini didapatkan pada anemia megaloblastik, penyakit hati menahun berupa thin macrocytes dan pada keadaan dengan retikulositosis, seperti anemia hemolitik atau anemia paska pendarahan.
b)      Mikrosit
      Ukuran eritrosit yang kurang dari 6,2 Nm. Terjadinya karena menurunnya sintesa hemoglobin yang disebabkan defisiensi besi, defeksintesa globulin, atau kelainan mitokondria yang mempengaruhi unsure hem dalam molekul hemoglobin. Sel ini didapatkan pada anemia hemolitik, anemia megaloblastik, dan pada anemia defisiensi besi.
c)      Anisositosis
      Pada kelainan ini tidak ditemukan suatu kelainan hematologic yang spesifik, keadaan ini ditandai dengan adanya eritrosit dengan ukuran yang tidak sama besar dalam sediaan apusan darah tepi (bermacam-macam ukuran). Sel ini didapatkan pada anemia mikrositik yang ada bersamaan anemia makrositik seperti pada anemia gizi.

2)       Kelainan berdasarkan berdasarkan bentuk eritrosit
a)      Ovalosit
      Eritrosit yang berbentuk lonjong . Evalosit memiliki sel dengan sumbu panjang kurang dari dua kali sumbu pendek. Evalosit ditemukan dengan kemungkinan bahwa pasien menderita kelainan yang diturunkan yang mempengaruhi sitoskelekton eritrosit misalnya ovalositosis herediter.
b)      Sferosit
      Sel yang berbentuk bulat atau mendekati bulat. Sferosit merupakan sel yang telah kehilangan sitosol yang setara. Karena kelainan dari sitoskelekton dan membrane eritrosit.
c)      Schistocyte
      Merupakan fragmen eritrosit berukuran kecil dan bentuknya tak teratur, berwarna lebih tua. Terjadi pada anemia hemolitik karena combusco reaksi penolakan pada transplantasi ginjal.
d)      Teardrop cells (dacroytes)
      Berbentuk seperti buah pir. Terjadi ketika ada fibrosis sumsum tulang atau diseritropoesis berat dan juga dibeberapa anemia hemolitik, anemia megaloblastik, thalasemia mayor, myelofibrosi idiopati karena metastatis karsinoma atau infiltrasi myelofibrosis sumsum tulang lainnya.
e)      Blister cells
      Eritrosit yang terdapat lepuhan satu atau lebih berupa vakuola yang mudah pecah, bila pecah sel tersebut bisa menjadi keratosit dan fragmentosit. Terjadi pada anemia hemolitik mikroangiopati.
f)       Acantocyte / Burr cells
      Eritrosit mempunyai tonjolan  satu atau lebih pada membrane dinding sel kaku. Terdapat duri-duri di permukaan membrane yang ukurannya bervariasi dan menyebabkan sensitif terhadap pengaruh dari dalam maupun luar sel. Terjadi pada sirosis hati yang disertai anemia hemolitik, hemangioma hati, hepatitis pada neonatal.
g)      Sickle cells (Drepanocytes)
      Eritrosit yang berbentuk sabit. Terjadi pada reaksi transfusi, sferositosis congenital, anemia sel sickle, anemia hemolitik.
h)      Stomatocyte
      Eritrosit bentuk central pallor seperti mulut. Tarjadi pada alkoholisme akut, sirosis alkoholik, defisiensi glutsthione, sferosis herediter, nukleosis infeksiosa, keganasan, thallasemia.
i)        Target cells
      Eritrosit yang bentuknya seperti tembak atau topi orang meksiko. Terjadi pada hemogfobinopati, anemia hemolitika, penyakit hati.

3)      Kelainan berdasarkan warna eritrosit
a)      Hipokromia
      Penurunan warna eritrosit yaitu peningkatan diameter central pallor melebihi normal sehingga tampak lebih pucat. Terjadi pada anemia defisiensi besi, anemia sideroblastik, thallasemia dan pada infeksi menahun.
b)      Hiperkromia
      Warna tampak lebih tua biasanya jarang digunakan untuk menggambarkan ADT.
c)      Anisokromasia
      Adanya peningkatan variabillitas warna dari hipokrom dan normokrom. Anisokromasia umumnya menunjukkan adanya perubahan kondisi seperti kekurangan zat besi dan anemia penyakit kronis.
d)      Polikromasia
      Eritrosit berwarna merah muda sampai biru. Terjadi pada anemia hemolitik, dan hemopoeisis ekstrameduler.

4)      Kelainan berdasarkan benda inklusi eritrosit
a)      Basophilic stipping
      Suatu granula berbentuk ramping / bulat, berwarna biru tua. Sel ini sulit ditemukan karena distribusinya jarang.
b)      Kristal
      Bentuk batang lurus atau bengkok, mengandung pollimer rantai beta Hb A, dengan pewarnaan brilliant cresyl blue yang Nampak berwarna biru.
c)      Heinz bodies
      Benda inklusi berukuran 0,2 -22,0 Nm. Dapat dilihat dengan pewarnaan crystal violet / brillian cresyl blue.
d)      Howell-jouy bodies
      Bentuk bulat, berwarna biru tua atau ungu, jumlahnya satu atau dua mengandung DNA. Karena percepatan atau abnormalitas eritropoeisis. Terjadi pada anemia hemolitik, post operasi, atrofi lien.
e)      Pappenheimer bodies
      Berupa bintik, warna ungu dengan pewarnaan wright. Dijumpai pada hiposplenisme, anemia hemolitika.

Cara menghitung jumlah eritrosit
Prinsip “ darah diencerkan dalam larutan isotonis untuk memudahkan menghitung eritrosit dan mencegah hemolisis “
Larutan pengencer yang digunakan :
a)      Larutan hayem, terdiri dari:
-          Natrium sulfat 5 g
-          Natrium chloride 0,5 g
-          Mercury chloride 0,5 g
-          Aquadest add 200 ml
b)      Larutan gowers, terdiri dari :
-          Natrium sulfat 12,5 g
-          Asam asetat glacial 33,3 ml
-          Aquadest add 200 ml

Cara menghitung :
1)      Mengisi pipet eritrosit
       Darah dihisap sampai garis tanda 0,5 dan larutan pengencer sampai tanda 101
2)      Mengisi kamar hitung
3)      Menghitung jumlah sel dengan menggunakan mikroskop perbesaran sedang atau 40x
4)      Hitunglah semua eritrosit yang terdapat dalam 5 bidang yang tersusun dari 16 bidang kecil.
Nilai normal jumlah eritrosit :
·         Laki-laki : 4,6 s/d 6,2 juta/ml
·         Wanita   : 4,2 s/d 5,4 juta/ml
                   Kesalahan-kesalahan pada hitung eritrosit yaitu pada menghitung jumlah eritrosit memakai lensa objektif kecil yaitu perbesaran 10x, sehingga sangat tidak teliti hasilnya.
Akibat eritrosit yang berlebih dan kekurangan eritrosit :
a)      Penurunan eritrosit
-          Kehilangan darah (perdarahan)
-          Anemia, infeksi kronis, leukemia, dan hidrasi berlebihan.
b)      Peningkatan eritrosit
-          Polisitemia vena
-          Hemokonsentrasi
-          Dehidrasi
-          Penyakit kardio vaskuler
Nilai indeks eritrosit
1)      Mean Corpuscular Volume (MCV), menggambarkan volume rata-rata eritrosit.
2)      Mean Corpuscular Hemoglobin (MCH), menggambarkan rata-rata kandungan hemoglobin.
3)      Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration (MCHC), menggambarkan kandungan hemoglobin rata-rata dalam tiap eritrosit.








 

Penyakit kulit sekalipun tidak berbahaya, mempunyai dampak yang besar bagi pasien baik secara fisik maupun psikologik. Kecepatan dan ketepatan dalam melakukan diagnosis sangat penting untuk pengobatan, yang tentu akan berpengaruh pada kesembuhan dan prognosis pasien.
Banyak variasi gambaran klinis dari satu penyakit kulit, dan sebaliknya satu bentuk kelainan klinis bisa didapati pada beberapa penyakit. Hal-hal semacam ini sangat penting diketahui dan dipelajari oleh tenaga kesehatan medis, paramedis dan mahasiswa kedokteran serta kebidanan dan keperawatan bahkan mungkin residen, dokter, dan dokter spesialis.
Untuk itulah, bagi anda yang ingin mempelajari lebih lanjut tentang penyakit kulit terutama yang sering terjadi di Indonesia, sebaiknya membaca buku pedoman yang berjudul “Penyakit Kulit Yang Umum di Indonesia, Sebuah Panduan Bergambar“. Dalam buku Penyakit Kulit Yang Umum di Indonesia yang ditulis oleh para staf pengajar Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo tersebut, berisikan pedoman tentang berbagai penyakit kulit yang umum ditemukan di Indonesia serta diagnosis bandingnya, dalam bentuk sinopsis dengan disertai gambar-gambar.
Tentu saja, buku ini dapat memudahkan para tenaga kesehatan khususnya para mahasiswa kedokteran, kebidanan dan keperawatan yang sedang belajar ilmu kedokteran, kebidanan maupun keperawatan dalam membuat diagnosis penyakit atau memikirkan kemungkinan diagnosis bandingya, terutama bila sarana penunjang tidak memadai.
Buku bergambar tentang penyakit kulit ini dapat didownload secara gratis. Dan berikut adalah beberapa contoh daftar isi yang terdapat dalam buku panduan bergambar Penyakit Kulit yang Umum di Indonesia:
  1. Dermatoterapi Topikal
  2. Dermatitis: Dermatitis kontak, Dermatitis popok, Dermatitis atopik, Pitiriasis, Liken simpleks, Dermatitis numularis, Dermatitis stasis, Pitiriasis rosea, Psoriasis, Dermatitis seboroik, Eritroderma
  3. Infeksi Jamur: Tinea pedis interdigitalis, Tinea kapitis, Tinea korporis, Tinea kruris, Tinea imbrikata, Onikomikosis, Pitiriasis versikolor, Kandidosis, Kromomikosis, Zigomikosis subkutan
  4. Infeksi Bakteri: Impetigo vesikobulosa, Impetigo krustosa, Folikulitis, Furunkel/Karbunkel, Ektima, Erisipelas, Selulitis, Abses multipel kelenjar keringat, Hidradenitis supurativa, Staphylococcus scaldedskin syndrome, Sifilis stadium II, Frambusia, Kusta, Skrofuloderma
  5. Infeksi Virus: Infeksi HIV, Herpes simpleks, Kondilomata akuminata, Varisela, Herpes Zoster, Veruka vulgaris, Moluskum kontangiosum
  6. Infeksi Parasit: Creeping eruption, Skabies, Pedikulosis kapitis, Pedikulosis (Phthiriasis) pubis
  7. Alergi Immunologi: Pemfigus vulgaris, Pemfigoid bulosa, Lupus eritematosus diskoid, Vitiligo, Erupsi eksantematosa, Eksantema fikstum, Urtikaria dan angioudem, Dermatitis medikamentosa, Eritema multiforme/SindromaSteven Johnson/Nekrolisisepidermal toksik
  8. Dermatokosmetologi: Lentiginosis, Efelid, Melasma, Melanosis Riehl, Nevus Ota, Akne, Erupsi akneiformis
  9. Tumor Kulit: Keloid, Hemangioma, Karsinoma sel basal, Karsinoma sel skuamosa, Melanoma maligna
  10. Lain-Lain: Pearly penile papules, Prurigo hebra, Miliaria, Urtikaria dan angioudem
DOWNLOAD BUKU PENYAKIT KULIT YANG UMUM DI INDONESIA: SEBUAH PANDUAN BERGAMBAR
Judul: Penyakit Kulit yang Umum di Indonesia: Sebuah Panduan Bergambar
Penerbit: PT Medical Multimedia Indonesia, Jakarta dan I.K. Kulit dan Kelamin FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo
Tahun: 2005, 107 hal.
Ukuran File: 5,37 MB
atau
Buku ini diproduksi oleh para penulis dan penerbit untuk tujuan nir-laba.
Isi dapat direproduksi dengan izin,
selama tidak bertujuan mencari laba.

Copyright Disclaimer: :Situs ini tidak menyimpan file-file di atas pada server ini. Kami hanya menyusun dan me-link ke konten yang disediakan oleh penyedia situs lain. Silakan hubungi penyedia konten tersebut untuk menghapus konten yang berisi hak cipta bila ada, dan kami tidak bertanggung jawab atas file-file tersebut.

Pemeriksaan klinis atau lebih dikenal dengan nama pemeriksaan fisik adalah sebuah proses dari seorang ahli medis seperti bidan ataupun dokter dalam memeriksa tubuh pasien untuk menemukan tanda klinis penyakit. Hasil pemeriksaan fisik ini akan dicatat dalam sebuah rekam medis. Rekam medis dan pemeriksaan fisik akan membantu dalam penegakkan diagnosis dan perencanaan perawatan pasien.
Biasanya, pemeriksaan fisik dilakukan secara sistematis, mulai dari bagian kepala dan berakhir pada anggota gerak dengan urutan teknik pemeriksaan seperti inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi. Pada pemeriksaan abdomen auskultasi dilakakukan setelah inspeksi baru kemudian palpasi dan perkusi. Auskultasi dilakukan sebelum kita melakukan palpasi dan perkusi dengan tujuan agar hasil pemeriksaan auskultasi lebih akurat karena kita belum melakukan manipulasi terhadap abdomen.
Bagi teman-teman yang membutuhkan video pemeriksaan fisik lengkap mulai dari pemeriksaan kepala hingga pemeriksaan kaki, dapat mendownload secara gratis di sini. Video ini sangat cocok bagi siapapun yang ingin meningkatkan kemampuan dalam skill lab pemeriksaan fisik, bagi para mahasiswa kedokteran atau kesehatan, mahasiswa koas, dan lain sebagainya. Dan mungkin bagi dokter atau residen yang sekedar untuk mengingatkan kembali atau untuk memberikan pembelajaran bagi para siswanya.
Berikut adalah daftar video pemeriksaan fisik lengkap:
Pemeriksaan Dada (Chest Examinatio)
Pendahuluan (Introduction)
http://rapidshare.com/files/146438695/02V01.WMV
Pemeriksaan Dada, Respirasi, dan Thorax Posterior (Assessment of the Chest, Respirations, and the Posterior Thorax)
http://rapidshare.com/files/146438715/02V02.WMV
Pemeriksaan Thorax Posterior (lanjutan) (Assessment of the Posterior Thorax (continued))
http://rapidshare.com/files/146438762/02V03.WMV
Perkusi Thorax Posterior (Percussion of the Posterior Thorax)
http://rapidshare.com/files/146438804/02V04.WMV
Penilaian Suara Pernafasan (Review of Breath Sounds)
http://rapidshare.com/files/146438859/02V05.WMV
Adventisius Suara Pernafasan (Adventitious Breath Sounds)
http://rapidshare.com/files/146438872/02V06.wmv
Auskultasi Thorax Posterior (Auscultation of the Posterior Thorax)
http://rapidshare.com/files/146438959/02V07.wmv
Pemeriksaan Thorax Anterior (Assessment of the Anterior Thorax)
http://rapidshare.com/files/146438942/02V08.WMV
Perkusi Thorax Anterior (Percussion of the Anterior Thorax)
http://rapidshare.com/files/146438966/02V09.WMV
Auskultasi Thorax Anterior (Auscultation of the Anterior Thorax)
http://rapidshare.com/files/146439008/02V10.WMV
Kesimpulan (Summary)
http://rapidshare.com/files/146439024/02V11.WMV
Pemeriksaan Kardiovaskuler: Jantung, dan Pembuluh Darah Leher (Cardiovascular: Neck Vessels and Heart)
Pendahuluan (Introduction)
http://rapidshare.com/files/146441734/01V01.WMV
Pemeriksaan Pembuluh Leher (Examination of the Neck Vessels)
http://rapidshare.com/files/146441875/01V02.WMV
Pemeriksaan Jantung (Examination of the Heart)
http://rapidshare.com/files/146441918/01V03.WMV
Penilaian Suara Jantung (Review of Heart Sounds)
http://rapidshare.com/files/146441963/01V04.WMV
Auskultasi Jantung (Auscultation of the Heart)
http://rapidshare.com/files/146442122/01V05.WMV
Suara Jantung S1 dan S2 (Heart Sounds: S1, S2)
http://rapidshare.com/files/146442175/01V06.WMV
Suara Jantung S3, S4, dan murmur (Heart Sounds: S3, S4, murmurs)
http://rapidshare.com/files/146442261/01V07.WMV
(Kesimpulan) Summary
http://rapidshare.com/files/146442304/01V08.WMV
Pemeriksaan Kardiovaskuler: Sistem Pembuluh Darah Perifer (Cardiovascular: Peripheral Vascular System)
Pendahuluan (Introduction)
http://rapidshare.com/files/146443841/05V01.WMV
Pemeriksaan Tangan (Examination of the Arms)
http://rapidshare.com/files/146443909/05V02.WMV
Pemeriksaan Kaki (Examination of the Legs)
http://rapidshare.com/files/146443947/05V03.wmv
Pemeriksaan Kaki – lanjutan (Examination of the Legs (continued))
http://rapidshare.com/files/146444020/05V04.wmv
Kesimpulan (Summary)
http://rapidshare.com/files/146444085/05V05.WMV
Pemeriksaan Abdomen (Abdomen Examination)
Pendahuluan (Introduction)
http://rapidshare.com/files/146444115/04V01.WMV
Inspeksi pada Abdomen (Inspection of the Abdomen)
http://rapidshare.com/files/146444217/04V02.WMV
Auskultasi pada Abdomen (Auscultation of the Abdomen)
http://rapidshare.com/files/146444292/04V03.WMV
Perkusi pada Abdomen (Percussion of the Abdomen)
http://rapidshare.com/files/146444440/04V04.WMV
Palpasi pada Abdomen (Palpation of the Abdomen)
http://rapidshare.com/files/146444606/04V05.WMV
Pemeriksaan Hati (Examination of the Liver)
http://rapidshare.com/files/146444717/04V06.WMV
Pemeriksaan Limpa (Examination of the Spleen)
http://rapidshare.com/files/146444987/04V07.WMV
Pemeriksaan Ginjal dan Aorta (Examination of the Kidneys and Aorta)
http://rapidshare.com/files/146445013/04V08.WMV
Kesimpulan (Summary)
http://rapidshare.com/files/146445036/04V09.WMV
Pemeriksaan Neurologis: Saraf Kranial dan Sistem Sensorik (Neurological: Cranial Nerves and Sensory System)
Pendahuluan (Introduction)
http://rapidshare.com/files/146446956/06V01.WMV
Pemeriksaan Umum Status Neurologis (General Observation of Neurological Status)
http://rapidshare.com/files/146446979/06V02.WMV
Saraf Kranial I dan II (Cranial Nerves I and II)
http://rapidshare.com/files/146447055/06V03.WMV
Saraf Kranial III, IV, dan VI (Cranial Nerves III, IV, and VI)
http://rapidshare.com/files/146447073/06V04.WMV
Saraf Kranial V dan VII (Cranial Nerves V and VII)
http://rapidshare.com/files/146447130/06V05.WMV
Saraf Kranila VIII (Cranial Nerve VIII)
http://rapidshare.com/files/146447095/06V06.WMV
Saraf Kranial IX, X, XI, dan XII (Cranial Nerves IX, X, XI, and XII)
http://rapidshare.com/files/146447150/06V07.WMV
Pemeriksaan Sensorik: Nyeri, Temperatur, dan Sensasi Sentuhan Ringan (Sensory Assessment: Pain, Temperature, and Light Touch)
Sensations
http://rapidshare.com/files/146447165/06V08.WMV
Pemeriksaan Sensorik: Sensasi Vibrasi dan Posisi (Sensory Assessment: Vibration Sensation and Position Sense)
http://rapidshare.com/files/146447176/06V09.WMV
Pemeriksaan Sensorik: Sensasi Diskrimatori (Sensory Assessment: Discriminatory Sensations)
http://rapidshare.com/files/146447205/06V10.WMV
Kesimpulan (Summary)
http://rapidshare.com/files/146447186/06V11.WMV
Pemeriksaan Neurologis: Sistem Motorik dan Reflek (Neurologic: Motor System and Reflexes)
Pendahuluan (Introduction)
http://rapidshare.com/files/146447236/03V01.WMV
Pemeriksaan Sistem Motorik: Ekstremitas Atas (Assessment of the Motor System: Upper Extremities)
http://rapidshare.com/files/146447303/03V02.WMV
Pemeriksaan Sistem Motorik: Ekstremitas Bawah (Assessment of the Motor System: Lower Extremities)
http://rapidshare.com/files/146447310/03V03.WMV
Pemeriksaan Koordinasi (Assessment of Coordination)
http://rapidshare.com/files/146447346/03V04.WMV
Tes Romberg (Romberg Test; Testing for Pronator Drift)
http://rapidshare.com/files/146447322/03V05.WMV
Pemeriksaan Reflek (Assessment of Reflexes)
http://rapidshare.com/files/146447385/03V06.WMV
Supine Assessment of Reflexes
http://rapidshare.com/files/146447370/03V07.WMV
Further Testing of Reflexes
http://rapidshare.com/files/146447390/03V08.WMV
Kesimpulan (Summary)
http://rapidshare.com/files/146447389/03V09.WMV
Sistem Muskuloskeletal (Muscoskeletal System)
Pendahuluan (Introduction)
http://rapidshare.com/files/146450027/09V01.WMV
Pemeriksaan Kepala dan Leher (Assessment of the Head and Neck)
http://rapidshare.com/files/146450059/09V02.WMV
Pemeriksaan Tangan dan Pergelangan Tangan (Assessment of the Hands and Wrists)
http://rapidshare.com/files/146450087/09V03.WMV
Pemeriksaan Siku (Assessment of the Elbows)
http://rapidshare.com/files/146450103/09V04.WMV
Pemeriksaan Bahu (Assessment of the Shoulders and Related Structures)
http://rapidshare.com/files/146450134/09V05.WMV
Pemeriksaan Kaki dan Pergelangan Kaki (Assessment of the Feet and Ankles)
http://rapidshare.com/files/146450164/09V06.WMV
Pemeriksaan Kaki (Assessment of the Legs)
http://rapidshare.com/files/146450203/09V07.WMV
Pemeriksaan Pinggul (Assessment of the Hips)
http://rapidshare.com/files/146450199/09V08.WMV
Pemeriksaan Tulang Belakang (Assessment of the Spine)
http://rapidshare.com/files/146450242/09V09.WMV
Kesimpulan (Summary)
http://rapidshare.com/files/146450241/09V10.WMV
Pemeriksaan Kepala, Mata, dan Telinga (Head, Eyes and Ears)
Pendahuluan (Introduction)
http://rapidshare.com/files/146450254/07V01.WMV
Inspeksi pada Kepala (Inspection of the Head)
http://rapidshare.com/files/146450311/07V02.WMV
Pemeriksaan Mata: Ketajaman Penglihatan dan Lapang Pandang (Examination of the Eyes: Visual Acuity and Visual)
Fields
http://rapidshare.com/files/146450354/07V03.WMV
Inspeksi pada Mata (Inspection of the Eyes)
http://rapidshare.com/files/146450413/07V04.WMV
Pemeriksaan Otot Ekstraokuler (Assessment of the Extraocular Muscles)
http://rapidshare.com/files/146450422/07V05.WMV
Pemeriksaan Optalmoskop (Ophthalmoscopic Examination)
http://rapidshare.com/files/146450471/07V06.WMV
Pemeriksaan Telinga (Examination of the Ears)
http://rapidshare.com/files/146450490/07V07.WMV
Pemeriksaan Pendengaran (Assessment of Hearing)
http://rapidshare.com/files/146450512/07V08.WMV
Kesimpulan (Summary)
http://rapidshare.com/files/146450539/07V09.WMV
Pemeriksaan Hidung, Mulut, dan Leher (Nose, Mouth and Neck)
Pendahuluan (Introduction)
http://rapidshare.com/files/146450571/08V01.WMV
Inspeksi pada Hidung (Inspection of the Nose)
http://rapidshare.com/files/146450605/08V02.WMV
Inspeksi pada Mulut (Inspection of the Mouth)
http://rapidshare.com/files/146450641/08V03.WMV
Inspeksi pada Leher (Inspection of the Neck)
http://rapidshare.com/files/146450684/08V04.WMV
Kesimpulan (Summary)
http://rapidshare.com/files/146450664/08V05.WMV
Video-video di atas di ambil dari GOOMEDIC Informatics Portal. Alternatif lain bagi yang tidak menyukai rapidshare dapat mengunjungi facebook dari Clinical Examination Videos.