Tampilkan postingan dengan label SISTEM RESPIRASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SISTEM RESPIRASI. Tampilkan semua postingan

Proses Embriologi

Sabtu, 02 Juni 2012

Pemeriksaan klinis atau lebih dikenal dengan nama pemeriksaan fisik adalah sebuah proses dari seorang ahli medis seperti bidan ataupun dokter dalam memeriksa tubuh pasien untuk menemukan tanda klinis penyakit. Hasil pemeriksaan fisik ini akan dicatat dalam sebuah rekam medis. Rekam medis dan pemeriksaan fisik akan membantu dalam penegakkan diagnosis dan perencanaan perawatan pasien.
Biasanya, pemeriksaan fisik dilakukan secara sistematis, mulai dari bagian kepala dan berakhir pada anggota gerak dengan urutan teknik pemeriksaan seperti inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi. Pada pemeriksaan abdomen auskultasi dilakakukan setelah inspeksi baru kemudian palpasi dan perkusi. Auskultasi dilakukan sebelum kita melakukan palpasi dan perkusi dengan tujuan agar hasil pemeriksaan auskultasi lebih akurat karena kita belum melakukan manipulasi terhadap abdomen.
Bagi teman-teman yang membutuhkan video pemeriksaan fisik lengkap mulai dari pemeriksaan kepala hingga pemeriksaan kaki, dapat mendownload secara gratis di sini. Video ini sangat cocok bagi siapapun yang ingin meningkatkan kemampuan dalam skill lab pemeriksaan fisik, bagi para mahasiswa kedokteran atau kesehatan, mahasiswa koas, dan lain sebagainya. Dan mungkin bagi dokter atau residen yang sekedar untuk mengingatkan kembali atau untuk memberikan pembelajaran bagi para siswanya.
Berikut adalah daftar video pemeriksaan fisik lengkap:
Pemeriksaan Dada (Chest Examinatio)
Pendahuluan (Introduction)
http://rapidshare.com/files/146438695/02V01.WMV
Pemeriksaan Dada, Respirasi, dan Thorax Posterior (Assessment of the Chest, Respirations, and the Posterior Thorax)
http://rapidshare.com/files/146438715/02V02.WMV
Pemeriksaan Thorax Posterior (lanjutan) (Assessment of the Posterior Thorax (continued))
http://rapidshare.com/files/146438762/02V03.WMV
Perkusi Thorax Posterior (Percussion of the Posterior Thorax)
http://rapidshare.com/files/146438804/02V04.WMV
Penilaian Suara Pernafasan (Review of Breath Sounds)
http://rapidshare.com/files/146438859/02V05.WMV
Adventisius Suara Pernafasan (Adventitious Breath Sounds)
http://rapidshare.com/files/146438872/02V06.wmv
Auskultasi Thorax Posterior (Auscultation of the Posterior Thorax)
http://rapidshare.com/files/146438959/02V07.wmv
Pemeriksaan Thorax Anterior (Assessment of the Anterior Thorax)
http://rapidshare.com/files/146438942/02V08.WMV
Perkusi Thorax Anterior (Percussion of the Anterior Thorax)
http://rapidshare.com/files/146438966/02V09.WMV
Auskultasi Thorax Anterior (Auscultation of the Anterior Thorax)
http://rapidshare.com/files/146439008/02V10.WMV
Kesimpulan (Summary)
http://rapidshare.com/files/146439024/02V11.WMV
Pemeriksaan Kardiovaskuler: Jantung, dan Pembuluh Darah Leher (Cardiovascular: Neck Vessels and Heart)
Pendahuluan (Introduction)
http://rapidshare.com/files/146441734/01V01.WMV
Pemeriksaan Pembuluh Leher (Examination of the Neck Vessels)
http://rapidshare.com/files/146441875/01V02.WMV
Pemeriksaan Jantung (Examination of the Heart)
http://rapidshare.com/files/146441918/01V03.WMV
Penilaian Suara Jantung (Review of Heart Sounds)
http://rapidshare.com/files/146441963/01V04.WMV
Auskultasi Jantung (Auscultation of the Heart)
http://rapidshare.com/files/146442122/01V05.WMV
Suara Jantung S1 dan S2 (Heart Sounds: S1, S2)
http://rapidshare.com/files/146442175/01V06.WMV
Suara Jantung S3, S4, dan murmur (Heart Sounds: S3, S4, murmurs)
http://rapidshare.com/files/146442261/01V07.WMV
(Kesimpulan) Summary
http://rapidshare.com/files/146442304/01V08.WMV
Pemeriksaan Kardiovaskuler: Sistem Pembuluh Darah Perifer (Cardiovascular: Peripheral Vascular System)
Pendahuluan (Introduction)
http://rapidshare.com/files/146443841/05V01.WMV
Pemeriksaan Tangan (Examination of the Arms)
http://rapidshare.com/files/146443909/05V02.WMV
Pemeriksaan Kaki (Examination of the Legs)
http://rapidshare.com/files/146443947/05V03.wmv
Pemeriksaan Kaki – lanjutan (Examination of the Legs (continued))
http://rapidshare.com/files/146444020/05V04.wmv
Kesimpulan (Summary)
http://rapidshare.com/files/146444085/05V05.WMV
Pemeriksaan Abdomen (Abdomen Examination)
Pendahuluan (Introduction)
http://rapidshare.com/files/146444115/04V01.WMV
Inspeksi pada Abdomen (Inspection of the Abdomen)
http://rapidshare.com/files/146444217/04V02.WMV
Auskultasi pada Abdomen (Auscultation of the Abdomen)
http://rapidshare.com/files/146444292/04V03.WMV
Perkusi pada Abdomen (Percussion of the Abdomen)
http://rapidshare.com/files/146444440/04V04.WMV
Palpasi pada Abdomen (Palpation of the Abdomen)
http://rapidshare.com/files/146444606/04V05.WMV
Pemeriksaan Hati (Examination of the Liver)
http://rapidshare.com/files/146444717/04V06.WMV
Pemeriksaan Limpa (Examination of the Spleen)
http://rapidshare.com/files/146444987/04V07.WMV
Pemeriksaan Ginjal dan Aorta (Examination of the Kidneys and Aorta)
http://rapidshare.com/files/146445013/04V08.WMV
Kesimpulan (Summary)
http://rapidshare.com/files/146445036/04V09.WMV
Pemeriksaan Neurologis: Saraf Kranial dan Sistem Sensorik (Neurological: Cranial Nerves and Sensory System)
Pendahuluan (Introduction)
http://rapidshare.com/files/146446956/06V01.WMV
Pemeriksaan Umum Status Neurologis (General Observation of Neurological Status)
http://rapidshare.com/files/146446979/06V02.WMV
Saraf Kranial I dan II (Cranial Nerves I and II)
http://rapidshare.com/files/146447055/06V03.WMV
Saraf Kranial III, IV, dan VI (Cranial Nerves III, IV, and VI)
http://rapidshare.com/files/146447073/06V04.WMV
Saraf Kranial V dan VII (Cranial Nerves V and VII)
http://rapidshare.com/files/146447130/06V05.WMV
Saraf Kranila VIII (Cranial Nerve VIII)
http://rapidshare.com/files/146447095/06V06.WMV
Saraf Kranial IX, X, XI, dan XII (Cranial Nerves IX, X, XI, and XII)
http://rapidshare.com/files/146447150/06V07.WMV
Pemeriksaan Sensorik: Nyeri, Temperatur, dan Sensasi Sentuhan Ringan (Sensory Assessment: Pain, Temperature, and Light Touch)
Sensations
http://rapidshare.com/files/146447165/06V08.WMV
Pemeriksaan Sensorik: Sensasi Vibrasi dan Posisi (Sensory Assessment: Vibration Sensation and Position Sense)
http://rapidshare.com/files/146447176/06V09.WMV
Pemeriksaan Sensorik: Sensasi Diskrimatori (Sensory Assessment: Discriminatory Sensations)
http://rapidshare.com/files/146447205/06V10.WMV
Kesimpulan (Summary)
http://rapidshare.com/files/146447186/06V11.WMV
Pemeriksaan Neurologis: Sistem Motorik dan Reflek (Neurologic: Motor System and Reflexes)
Pendahuluan (Introduction)
http://rapidshare.com/files/146447236/03V01.WMV
Pemeriksaan Sistem Motorik: Ekstremitas Atas (Assessment of the Motor System: Upper Extremities)
http://rapidshare.com/files/146447303/03V02.WMV
Pemeriksaan Sistem Motorik: Ekstremitas Bawah (Assessment of the Motor System: Lower Extremities)
http://rapidshare.com/files/146447310/03V03.WMV
Pemeriksaan Koordinasi (Assessment of Coordination)
http://rapidshare.com/files/146447346/03V04.WMV
Tes Romberg (Romberg Test; Testing for Pronator Drift)
http://rapidshare.com/files/146447322/03V05.WMV
Pemeriksaan Reflek (Assessment of Reflexes)
http://rapidshare.com/files/146447385/03V06.WMV
Supine Assessment of Reflexes
http://rapidshare.com/files/146447370/03V07.WMV
Further Testing of Reflexes
http://rapidshare.com/files/146447390/03V08.WMV
Kesimpulan (Summary)
http://rapidshare.com/files/146447389/03V09.WMV
Sistem Muskuloskeletal (Muscoskeletal System)
Pendahuluan (Introduction)
http://rapidshare.com/files/146450027/09V01.WMV
Pemeriksaan Kepala dan Leher (Assessment of the Head and Neck)
http://rapidshare.com/files/146450059/09V02.WMV
Pemeriksaan Tangan dan Pergelangan Tangan (Assessment of the Hands and Wrists)
http://rapidshare.com/files/146450087/09V03.WMV
Pemeriksaan Siku (Assessment of the Elbows)
http://rapidshare.com/files/146450103/09V04.WMV
Pemeriksaan Bahu (Assessment of the Shoulders and Related Structures)
http://rapidshare.com/files/146450134/09V05.WMV
Pemeriksaan Kaki dan Pergelangan Kaki (Assessment of the Feet and Ankles)
http://rapidshare.com/files/146450164/09V06.WMV
Pemeriksaan Kaki (Assessment of the Legs)
http://rapidshare.com/files/146450203/09V07.WMV
Pemeriksaan Pinggul (Assessment of the Hips)
http://rapidshare.com/files/146450199/09V08.WMV
Pemeriksaan Tulang Belakang (Assessment of the Spine)
http://rapidshare.com/files/146450242/09V09.WMV
Kesimpulan (Summary)
http://rapidshare.com/files/146450241/09V10.WMV
Pemeriksaan Kepala, Mata, dan Telinga (Head, Eyes and Ears)
Pendahuluan (Introduction)
http://rapidshare.com/files/146450254/07V01.WMV
Inspeksi pada Kepala (Inspection of the Head)
http://rapidshare.com/files/146450311/07V02.WMV
Pemeriksaan Mata: Ketajaman Penglihatan dan Lapang Pandang (Examination of the Eyes: Visual Acuity and Visual)
Fields
http://rapidshare.com/files/146450354/07V03.WMV
Inspeksi pada Mata (Inspection of the Eyes)
http://rapidshare.com/files/146450413/07V04.WMV
Pemeriksaan Otot Ekstraokuler (Assessment of the Extraocular Muscles)
http://rapidshare.com/files/146450422/07V05.WMV
Pemeriksaan Optalmoskop (Ophthalmoscopic Examination)
http://rapidshare.com/files/146450471/07V06.WMV
Pemeriksaan Telinga (Examination of the Ears)
http://rapidshare.com/files/146450490/07V07.WMV
Pemeriksaan Pendengaran (Assessment of Hearing)
http://rapidshare.com/files/146450512/07V08.WMV
Kesimpulan (Summary)
http://rapidshare.com/files/146450539/07V09.WMV
Pemeriksaan Hidung, Mulut, dan Leher (Nose, Mouth and Neck)
Pendahuluan (Introduction)
http://rapidshare.com/files/146450571/08V01.WMV
Inspeksi pada Hidung (Inspection of the Nose)
http://rapidshare.com/files/146450605/08V02.WMV
Inspeksi pada Mulut (Inspection of the Mouth)
http://rapidshare.com/files/146450641/08V03.WMV
Inspeksi pada Leher (Inspection of the Neck)
http://rapidshare.com/files/146450684/08V04.WMV
Kesimpulan (Summary)
http://rapidshare.com/files/146450664/08V05.WMV
Video-video di atas di ambil dari GOOMEDIC Informatics Portal. Alternatif lain bagi yang tidak menyukai rapidshare dapat mengunjungi facebook dari Clinical Examination Videos.

SISTEM PERNAFASAN

Jumat, 23 September 2011

Pendahuluan
§Sistem pernapasan merupakan sistem yang berfungsi untuk mengabsorbsi oksigen dan mengeluarkan karbondioksida dalam tubuh yang bertujuan untuk mempertahankan homeostasis
§Sistem pernapasan dimulai dari rongga hidung/mulut hingga ke alveolus, di mana pada alveolus terjadi pertukaran oksigen dan karbondioksida dengan pembuluh darah.
Sitem pernafan di bagi atas dua bagian, yaitu  :
1. Bagian konduksi, meliputi rongga hidung, nasofaring, laring, trakea, bronkus, bronkiolus dan bronkiolus terminalis
2. Bagian respirasi, meliputi bronkiolus respiratorius, duktus alveolaris dan alveolus
  • §   Sebagian besar bagian konduksi dilapisi epitel respirasi, yaitu epitel bertingkat silindris bersilia dengan sel
    §   5 macam sel epitel respirasi yaitu sel silindris bersilia, sel goblet mukosa, sel sikat (brush cells), sel basal, dan sel granul kecil
    §   Rongga Hidung
    §   Terdiri atas vestibulum dan fosa nasalis.
    §   Pada vestibulum terdapat kelenjar sebasea dan vibrisa (bulu hidung). Epitel di dalam vestibulum merupakan epitel respirasi sebelum memasuki fosa nasalis.
    §   Pada fosa nasalis (cavum nasi) yang dibagi dua oleh septum nasi pada garis medial, terdapat konka (superior, media, inferior) pada masing-masing dinding lateralnya.

    §   Rongga Hidung
    ú  Konka media dan inferior ditutupi oleh epitel respirasi
    ú  Konka superior ditutupi oleh epitel olfaktoriusyang khusus untuk fungsi menghidu/membaui. Epitel olfaktorius tersebut terdiri atas 
       sel penyokong/sel sustentakuler
       sel olfaktorius (neuron bipolar dengan dendrit yang melebar di permukaan epitel olfaktorius dan bersilia, berfungsi sebagai reseptor dan memiliki akson yang bersinaps dengan neuron olfaktorius otak),  
       sel basal (berbentuk piramid)
       kelenjar Bowman pada lamina propria. Kelenjar Bowman menghasilkan sekret yang membersihkan silia sel olfaktorius sehingga memudahkan akses neuron untuk membaui zat-zat. Adanya vibrisa, konka dan vaskularisasi yang khas pada rongga hidung membuat setiap udara yang masuk mengalami pembersihan, pelembapan dan penghangatan sebelum masuk lebih jauh
    §   Rongga Hidung
    §   Sinus Paranasalis
    §   Terdiri atas
    ú  sinus frontalis
    ú  sinus maksilaris
    ú  sinus ethmoidales
    ú  sinus sphenoid
    semuanya berhubungan langsung dengan rongga hidung.
    §   Sinus-sinus tersebut dilapisi oleh epitel respirasi yang lebih tipis dan mengandung sel goblet yang lebih sedikit serta lamina propria yang mengandung sedikit kelenjar kecil penghasil mukus yang menyatu dengan periosteum.
    §   Aktivitas silia mendorong mukus ke rongga hidung.

    §   Faring
    §   Nasofaring dilapisi oleh epitel respirasi pada bagian yang berkontak dengan palatum mole
    §   Orofaring dilapisi epitel tipe skuamosa/ gepeng
    §   Laring
    §   Laring merupakan bagian yang menghubungkan faring dengan trakea. 
    §   Pada lamina propria laring terdapat tulang rawan hialin dan elastin yang berfungsi sebagai katup yang mencegah masuknya makanan dan sebagai alat penghasil suara pada fungsi fonasi.
    §   Epiglotis merupakan juluran dari tepian laring, meluas ke faring dan memiliki permukaan lingual dan laringeal. Bagian lingual dan apikal epiglotis ditutupi oleh epitel gepeng berlapis, sedangkan permukaan laringeal ditutupi oleh epitel respirasi bertingkat bersilindris bersilia. Di bawah epitel terdapat kelenjar campuran mukosa dan serosa.

    §   Laring
    §   Di bawah epiglotis, mukosanya membentuk dua lipatan yang meluas ke dalam lumen laring:
    ú  pasangan lipatan atas membentuk pita suara palsu (plika vestibularis) yang terdiri dari epitel respirasi dan kelenjar serosa
    ú  lipatan bawah membentuk pita suara sejati yang terdiri dari epitel berlapis gepeng, ligamentum vokalis (serat elastin) dan muskulus vokalis (otot rangka). Otot muskulus vokalis akan membantu terbentuknya suara dengan frekuensi yang berbeda-beda
    §   Laring
    §   Trakea
    §   Permukaan trakea dilapisi oleh epitel respirasi.
    §   Terdapat kelenjar serosa pada lamina propria dan tulang rawan hialin berbentuk C (tapal kuda), yang mana ujung bebasnya berada di bagian posterior trakea.
    §   Cairan mukosa yang dihasilkan oleh sel goblet dan sel kelenjar membentuk lapisan yang memungkinkan pergerakan silia untuk mendorong partikel asing.
    §   Tulang rawan hialin berfungsi untuk menjaga lumen trakea tetap terbuka. Pada ujung terbuka (ujung bebas) tulang rawan hialin yang berbentuk tapal kuda tersebut terdapat ligamentum fibroelastis dan berkas otot polos yang memungkinkan pengaturan lumen dan mencegah distensi berlebihan
    §   Trakea
    §   Bronkus
    §   Mukosa bronkus secara struktural mirip dengan mukosa trakea, dengan lamina propria yang mengandung kelenjar serosa , serat elastin, limfosit dan sel otot polos.
    §   Tulang rawan pada bronkus lebih tidak teratur dibandingkan pada trakea; pada bagian bronkus yang lebih besar, cincin tulang rawan mengelilingi seluruh lumen, dan sejalan dengan mengecilnya garis tengah bronkus, cincin tulang rawan digantikan oleh pulau-pulau tulang rawan hialin.
    §   Bronkus
    §   Bronkiolus
    §  Bronkiolus tidak memiliki tulang rawan dan kelenjar pada mukosanya.
    §  Lamina propria mengandung otot polos dan serat elastin. Pada segmen awal hanya terdapat sebaran sel goblet dalam epitel.
    §  Pada bronkiolus yang lebih besar, epitelnya adalah epitel bertingkat silindris bersilia, yang makin memendek dan makin sederhana sampai menjadi epitel selapis silindris bersilia atau selapis kuboid pada bronkiolus terminalis yang lebih kecil.
    §  Terdapat sel Clara pada epitel bronkiolus terminalis, yaitu sel tidak bersilia yang  memiliki granul sekretori dan mensekresikan protein yang bersifat protektif. Terdapat juga badan neuroepitel yang kemungkinan berfungsi sebagai kemoreseptor.

    §   Bronkiolus
    §   Bronkiolus Respiratorius
    §   Mukosa bronkiolus respiratorius secara struktural identik dengan mukosa bronkiolus terminalis, kecuali dindingnya yang diselingi dengan banyak alveolus.
    §   Bagian bronkiolus respiratorius dilapisi oleh epitel kuboid bersilia dan sel Clara, tetapi pada tepi muara alveolus, epitel bronkiolus menyatu dengan sel alveolus tipe 1.
    §   Semakin ke distal alveolusnya semakin bertambah banyak dan silia semakin jarang/tidak dijumpai. Terdapat otot polos dan jaringan ikat elastis di bawah epitel bronkiolus respiratorius
    §   Duktus alveolaris
    §   Semakin ke distal dari bronkiolus respiratorius maka semakin banyak terdapat muara alveolus, hingga seluruhnya berupa muara alveolus yang disebut sebagai duktus alveolaris.
    §   Terdapat anyaman sel otot polos pada lamina proprianya, yang semakin sedikit pada segmen distal duktus alveolaris dan digantikan oleh serat elastin dan kolagen.
    §   Duktus alveolaris bermuara ke atrium yang berhubungan dengan sakus alveolaris.
    §   Adanya serat elastin dan retikulin yang mengelilingi muara atrium, sakus alveolaris dan alveoli memungkinkan alveolus mengembang sewaktu inspirasi, berkontraksi secara pasif pada waktu ekspirasi secara normal, mencegah terjadinya pengembangan secara berlebihan dan pengrusakan pada kapiler-kapiler halus dan septa alveolar yang tipis
    §   Alveolus
    §   Alveolus merupakan struktur berongga tempat pertukaran gas oksigen dan karbondioksida antara udara dan darah.
    §   Septum interalveolar memisahkan dua alveolus yang berdekatan, septum tersebut terdiri atas:
    ú   2 lapis epitel gepeng tipis dengan kapiler
    ú   fibroblas
    ú  serat elastin
    ú  Retikulin
    ú  matriks
    ú  sel jaringan ikat. 

    §   Alveolus
    §   Terdapat sel alveolus tipe 1 yang melapisi 97% permukaan alveolus
    ú  fungsinya untuk membentuk sawar dengan ketebalan yang dapat dilalui gas dengan mudah
    ú  Sitoplasmanya mengandung banyak vesikel pinositotik yang berperan dalam penggantian surfaktan (yang dihasilkan oleh sel alveolus tipe 2) dan pembuangan partikel kontaminan kecil.
    ú  Antara sel alveolus tipe 1 dihubungkan oleh desmosom dan taut kedap yang mencegah perembesan cairan dari jaringan ke ruang udara.

    §   Alveolus
    §   Sel alveolus tipe 2 tersebar di antara sel alveolus tipe 1, keduanya saling melekat melalui taut kedap dan desmosom.
    ú  Sel tipe 2 tersebut berada di atas membran basal, berbentuk kuboid dan dapat bermitosis untuk mengganti dirinya sendiri dan sel tipe 1.
    ú   Sel tipe 2 ini memiliki ciri mengandung badan lamela yang berfungsi menghasilkan surfaktan paru yang menurunkan tegangan alveolus paru.

    §   Alveolus
    §   Septum interalveolar mengandung pori-pori yang menghubungkan alveoli yang bersebelahan, fungsinya untuk menyeimbangkan tekanan udara dalam alveoli dan memudahkan sirkulasi kolateral udara bila sebuah bronkiolus tersumbat
    §   Alveolus
    §   Sawar darah udara dibentuk dari lapisan permukaan dan sitoplasma sel alveolus, lamina basalis, dan sitoplasma sel endothel
    §   Pleura
    §   Pleura merupakan lapisan yang memisahkan antara paru dan dinding toraks.
    §   Pleura terdiri atas dua lapisan:
    ú   pars parietal
    ú  pars viseral
    Kedua lapisan terdiri dari sel-sel mesotel yang berada di atas serat kolagen dan elastin.









SISTEM RESPIRASI

Jumat, 16 September 2011


Sistem Respirasi Manusia
Istilah bernapas, seringkali diartikan dengan respirasi, walaupun secara harfiah sebenarnya kedua istilah tersebut berbeda. Pernapasan (breathing) artinya menghirup dan menghembuskan napas. Oleh karena itu, bernapas diartikan sebagai proses memasukkan udara dari lingkungan luar ke dalam tubuh dan mengeluarkan udara sisa dari dalam tubuh ke lingkungan. Sementara, respirasi (respiration) berarti suatu proses pembakaran (oksidasi) senyawa organik (bahan makanan) di dalam sel sehingga diperoleh energi.
Energi yang dihasilkan dari respirasi sangat menunjang sekali untuk melakukan beberapa aktifitas. Misalnya saja, mengatur suhu tubuh, pergerakan, pertumbuhan dan reproduksi. Oleh karena itu, kegiatan pernapasan dan respirasi sebenarnya saling berhubungan.
1. Struktur Pernafasan Manusia
a. Hidung
Hidung merupakan alat pernapasan yang terletak di luar dan tersusun atas tulang rawan. Pada bagian ujung dan pangkal hidung ditunjang oleh tulang nasalis. Rongga hidung dibagi menjadi dua bagian oleh septum nasalis, yaitu bagian kiri dan kanan. Bagian depan septum
ditunjang oleh tulang rawan, sedangkan bagian belakang ditunjang oleh tulang vomer dan tonjolan tulang ethmoid.
Bagian bawah rongga hidung dibatasi oleh tulang palatum, dan maksila. Bagian atas dibatasi oleh
ethmoid, bagian samping oleh tulang maksila, konka nasalis inferior, dan ethomoid sedangkan bagian tengah dibatasi oleh septum nasalis.
Pada dinding lateral terdapat tiga tonjolan yang disebut konka nasalis superior, konka media dan konka inferior. Melalui celah-celah pada ketiga tonjolan ini udara inspirasi akan dipanaskan oleh darah di dalam kapiler dan dilembapkan oleh lendir yang disekresikan oleh sel goblet. Lendir juga dapat membersihkan udara pernapasan dari debu. Bagian atas dari rongga hidung terdapat daerah olfaktorius, yang mengandung sel-sel pembau. Sel-sel ini berhubungan dengan saraf otak pertama (nervus olfaktorius). Panjangnya sekitar 10 cm. Udara yang akan masuk ke dalam paru-paru pertama kali akan masuk melalui hidung terlebih dahulu. Sekitar 15.000 liter udara setiap hari akan melewati hidung.
b. Faring
udara dan makanan. Faring merupakan percabangan 2 saluran, yaitu saluran pernapasan (nasofaring) pada bagian depan dan saluran pencernaan (orofaring) pada bagian belakang. Udara dari rongga hidung masuk ke faring. Faring berbentuk seperti tabung corong, terletak di belakang rongga hidung dan mulut, dan tersusun dari otot rangka. Faring berfungsi sebagai jalannya udara dan makanan. Faring merupakan percabangan 2 saluran, yaitu saluran pernapasan (nasofaring) pada bagian depan dan saluran pencernaan (orofaring) pada bagian belakang.
c. Laring
Dari faring, udara pernapasan akan menuju pangkal tenggorokan atau disebut juga laring. Laring tersusun atas kepingan tulang rawan yang membentuk jakun. Jakun tersebut tersusun oleh tulang lidah, katup tulang rawan, perisai tulang rawan, piala tulang rawan, dan gelang tulang rawan.
Pangkal tenggorokan dapat ditutup oleh katup pangkal tenggorokan (epiglotis). Jika udara menuju tenggorokan, anak tekak melipat ke bawah, dan ketemu dengan katup pangkal tenggorokan sehingga membuka jalan udara ke tenggorokan. Saat menelan makanan, katup tersebut menutupi pangkal tenggorokan dan saat bernapas katup tersebut akan membuka.
Pada pangkal tenggorokan terdapat pita suara yang bergetar bila ada udara melaluinya. Misalnya saja saat kita berbicara.
d. Trakea
Tenggorokan berupa pipa yang panjangnya ± 10 cm, terletak sebagian di leher dan sebagian di rongga dada. Dinding tenggorokan tipis dan kaku, dikelilingi oleh cincin tulang rawan, dan pada bagian dalam rongga bersilia. Silia-silia ini berfungsi menyaring benda-benda asing yang masuk ke saluran pernapasan.
e. Bronkus
Bronkus tersusun atas percabangan, yaitu bronkus kanan dan kiri. Letak bronkus kanan dan kiri agak berbeda. Bronkus kanan lebih vertikal daripada kiri. Karena strukturnya ini, sehingga bronkus kanan akan mudah kemasukan benda asing. Itulah sebabnya paru-paru kanan
seseorang lebih mudah terserang penyakit bronkhitis.
Pada seseorang yang menderita asma bagian otot-otot bronkus ini berkontraksi sehingga akan menyempit. Hal ini dilakukan untuk mencegah masuknya lebih banyak benda asing yang menimbulkan reaksi alergi. Akibatnya penderita akan mengalami sesak napas. Sedangkan pada penderita bronkitis, bagian bronkus ini akan tersumbat oleh lendir. Bronkus kemudian bercabang lagi sebanyak 20–25 kali percabangan membentuk bronkiolus. Pada ujung bronkiolus inilah tersusun alveolus yang berbentuk seperti buah anggur.
f. Paru-paru
Organ yang berperan penting dalam proses pernapasan adalah paru-paru. Paru-paru merupakan organ tubuh yang terletak pada rongga dada, tepatnya di atas sekat diafragma. Diafragma adalah sekat rongga badan yang membatasi rongga dada dan rongga perut. Paru-paru terdiri atas dua bagian, paru-paru kanan dan paru-paru kiri. Paru-paru kanan memiliki tiga gelambir yang berukuran lebih besar daripada paru-paru sebelah kiri yang memiliki dua gelambir.
Paru-paru dibungkus oleh dua lapis selaput paru-paru yang disebut pleura. Semakin ke dalam, di dalam paru-paru akan ditemui gelembung halus kecil yang disebut alveolus. Jumlah alveolus pada paru-paru kurang lebih 300 juta buah. Adanya alveolus ini menjadikan permukaan paru-paru lebih luas. Diperkirakan, luas permukaan paruparu sekitar 160 m2. Dengan kata lain, paru-paru memiliki luas permukaan sekitar 100 kali lebih luas daripada luas permukaan tubuh.
Dinding alveolus mengandung kapiler darah. Oksigen yang terdapat pada alveolus berdifusi menembus dinding alveolus, lalu menem bus dinding kapiler darah yang mengelilingi alveolus. Setelah itu, masuk ke dalam pembuluh darah dan diikat oleh hemoglobin yang terdapat di dalam sel darah merah sehingga terbentuk oksihemoglobin (HbO2). Akhirnya, oksigen diedarkan oleh darah ke seluruh tubuh. Setelah sampai ke dalam sel-sel tubuh, oksigen dilepaskan sehingga oksihemoglobin kembali menjadi hemoglobin. Oksigen ini digunakan untuk oksidasi.
Karbon dioksida yang dihasilkan dari respirasi sel diangkut oleh plasma darah melalui pembuluh darah menuju ke paru-paru. Sesampai di alveolus, CO2 menembus dinding pembuluh darah dan din ding
alveolus. Dari alveolus, karbondioksida akan disalurkan menuju hidung untuk dikeluarkan. Jadi proses pertukaran gas sebenarnya berlangsung di alveolus.
2. Mekanisme Pernafasan Manusia
Pernapasan adalah suatu proses yang terjadi secara otomatis walau dalam keadaan tertidur sekalipun, karena sistem pernapasan dipengaruhi oleh susunan saraf otonom. Menurut tempat terjadinya pertukaran gas maka pernapasan dapat dibedakan atas 2 jenis, yaitu pernapasan luar dan pernapasan dalam.
Pernapasan luar adalah pertukaran udara yang terjadi antara udara dalam alveolus dengan
darah dalam kapiler. Pernapasan dalam adalah pernapasan yang terjadi antara darah dalam kapiler dengan sel-sel tubuh. Masuk keluarnya udara dalam paru-paru dipengaruhi oleh perbedaan tekanan udara dalam rongga dada dengan tekanan udara di luar tubuh. Jika tekanan di luar rongga dada lebih besar, maka udara akan masuk. Sebaliknya, apabila tekanan dalam rongga dada lebih besar maka udara akan keluar.
Sehubungan dengan organ yang terlibat dalam pemasukkan udara ( inspirasi) dan pengeluaran udara ( ekspirasi) maka mekanisme pernapasan dibedakan atas dua macam, yaitu pernapasan dada dan pernapasan perut. Pernapasan dada dan perut terjadi secara bersamaan.
1. Pernafasan Dada
Apabila kita menghirup dan menghempaskan udara menggunakan pernapasan dada, otot yang digunakan yaitu otot antartulang rusuk. Otot ini terbagi dalam dua bentuk, yakni otot antartulang rusuk luar dan otot antartulang rusuk dalam.
Saat terjadi inspirasi, otot antartulang rusuk luar berkontraksi, sehingga tulang rusuk menjadi terangkat. Akibatnya, volume rongga dada membesar. Membesarnya volume rongga dada menjadikan tekanan udara dalam rongga dada menjadi kecil/berkurang, padahal tekanan udara bebas tetap. Dengan demikian, udara bebas akan mengalir menuju paru-paru melewati saluran pernapasan.
Sementara saat terjadi ekspirasi, otot antartulang rusuk dalam berkontraksi (mengkerut/mengendur), sehingga tulang rusuk dan tulang dada ke posisi semula. Akibatnya, rongga dada mengecil. Oleh karena rongga dada mengecil, tekanan dalam rongga dada menjadi
meningkat, sedangkan tekanan udara di luar tetap. Dengan demikian, udara yang berada dalam rongga paru-paru menjadi terdorong keluar.
2. Pernafasan Perut
Pada proses pernapasan ini, fase inspirasi terjadi apabila otot diafragma (sekat rongga dada) mendatar dan volume rongga dada membesar, sehingga tekanan udara di dalam rongga dada lebih kecil daripada udara di luar, akibatnya udara masuk. Adapun fase ekspirasi terjadi apabila otot-otot diafragma mengkerut (berkontraksi) dan volume rongga dada mengecil, sehingga tekanan udara di dalam rongga dada lebih besar daripada udara di luar. Akibatnya udara dari dalam terdorong ke luar.
3. Mekanisme Pertukaran Gas Oksigen (02)dan Karbondioksida (CO2)
Udara lingkungan dapat dihirup masuk ke dalam tubuh makhluk hidup melalui dua cara, yakni pernapasan secara langsung dan pernapasan tak langsung. Pengambilan udara secara langsung dapat dilakukan oleh permukaan tubuh lewat proses difusi. Sementara udara yang dimasukan ke dalam tubuh melalui saluran pernapasan dinamakan pernapasan tidak langsung.
Saat kita bernapas, udara diambil dan dikeluarkan melalui paruparu. Dengan lain kata, kita melakukan pernapasan secara tidak langsung lewat paru-paru. Walaupun begitu, proses difusi pada pernapasan langsung tetap terjadi pada paru-paru. Bagian paru-paru yang meng alami
proses difusi dengan udara yaitu gelembung halus kecil atau alveolus.
Oleh karena itu, berdasarkan proses terjadinya pernapasan, manusia mempunyai dua tahap mekanisme pertukaran gas. Pertukaran gas oksigen dan karbon dioksida yang dimaksud yakni mekanisme pernapasan eksternal dan internal.
a. Pernafasan Eksternal
Ketika kita menghirup udara dari lingkungan luar, udara tersebut akan masuk ke dalam paru-paru. Udara masuk yang mengandung oksigen tersebut akan diikat darah lewat difusi. Pada saat yang sama, darah yang mengandung karbondioksida akan dilepaskan. Proses pertukaran oksigen (O2) dan karbondioksida (CO2) antara udara dan darah dalam paru-paru dinamakan pernapasan eksternal.
Saat sel darah merah (eritrosit) masuk ke dalam kapiler paru-paru, sebagian besar CO2 yang diangkut berbentuk ion bikarbonat (HCO- 3) . Dengan bantuan enzim karbonat anhidrase, karbondioksida (CO2) air (H2O) yang tinggal sedikit dalam darah akan segera berdifusi keluar. Persamaan reaksinya adalah sebagai berikut.
Seketika itu juga, hemoglobin tereduksi (yang disimbolkan HHb) melepaskan ion-ion hidrogen (H+) sehingga hemoglobin (Hb)-nya juga ikut terlepas. Kemudian, hemoglobin akan berikatan dengan oksigen (O2) menjadi oksihemoglobin (disingkat HbO2).
Proses difusi dapat terjadi pada paru-paru (alveolus), karena adaperbedaan tekanan parsial antara udara dan darah dalam alveolus. Tekanan parsial membuat konsentrasi oksigen dan karbondioksida pada darah dan udara berbeda.
Tekanan parsial oksigen yang kita hirup akan lebih besar dibandingkan tekanan parsial oksigen pada alveolus paru-paru. Dengan kata lain, konsentrasi oksigen pada udara lebih tinggi daripada konsentrasi oksigen pada darah. Oleh karena itu, oksigen dari udara akan berdifusi menuju darah pada alveolus paru-paru.
Sementara itu, tekanan parsial karbondioksida dalam darah lebih besar dibandingkan tekanan parsial karbondioksida pada udara. Sehingga, konsentrasi karbondioksida pada darah akan lebih kecil di bandingkan konsentrasi karbondioksida pada udara. Akibatnya, karbondioksida pada darah berdifusi menuju udara dan akan dibawa keluar tubuh lewat hidung.
b. Pernafasan Internal
Berbeda dengan pernapasan eksternal, proses terjadinya pertukaran gas pada pernapasan internal berlangsung di dalam jaringan tubuh. Proses pertukaran oksigen dalam darah dan karbondioksida tersebut berlangsung dalam respirasi seluler.
Setelah oksihemoglobin (HbO2) dalam paru-paru terbentuk, oksigen akan lepas, dan selanjutnya menuju cairan jaringan tubuh. Oksigen tersebut akan digunakan dalam proses metabolisme sel. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut.
Proses masuknya oksigen ke dalam cairan jaringan tubuh juga melalui proses difusi. Proses difusi ini terjadi karena adanya perbedaan tekanan parsial oksigen dan karbondioksida antara darah dan cairan jaringan. Tekanan parsial oksigen dalam cairan jaringan, lebih rendah dibandingkan oksigen yang berada dalam darah. Artinya konsentrasi oksigen dalam cairan jaringan lebih rendah. Oleh karena itu, oksigen dalam darah mengalir menuju cairan jaringan.
Sementara itu, tekanan karbondioksida pada darah lebih rendah daripada cairan jaringan. Akibatnya, karbondioksida yang terkandung dalam sel-sel tubuh berdifusi ke dalam darah. Karbondioksida yang diangkut oleh darah, sebagian kecilnya akan berikatan bersama hemoglobin membentuk karboksi hemoglobin (HbCO2). Reaksinya sebagai berikut.
Namun, sebagian besar karbondioksida tersebut masuk ke dalam plasma darah dan bergabung dengan air menjadi asam karbonat (H2CO3). Oleh enzim anhidrase, asam karbonat akan segera terurai menjadi dua ion, yakni ion hidrogen (H+) dan ion bikarbonat (HCO- Persamaan reaksinya sebagai berikut.
CO2 yang diangkut darah ini tidak semuanya dibebaskan ke luar tubuh oleh paru-paru, akan tetapi hanya 10%-nya saja. Sisanya yang berupa ion-ion bikarbonat yang tetap berada dalam darah. Ion-ion bikarbonat di dalam darah berfungsi sebagai bu. er atau larutan penyangga.\ Lebih tepatnya, ion tersebut berperan penting dalam menjaga stabilitas pH (derajat keasaman) darah.

sumber : http://zaifbio.wordpress.com/2010/01/13/sistem-respirasi-manusia/