- HUBUNGAN BERAT BADAN LAHIR DENGAN RUPTURE PERINEUM PERSALINAN NORMAL PADA PRIMIGRAVIDA DI BPS XXX (Bab 1, 2, 3, 4, 5)
- FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEENGANAN AKSEPTOR KB UNTUK MENGGUNAKAN ALAT KONTRASEPSI IUD DI PUSKESMAS XXX(BAB I, II, III)
- ANALISA SENAM HAMIL PADA IBU HAMIL DI KELAS IBU DI POSYANDU XXXX(BAB I, II, III, IV, V)
- FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MINAT IBU TERHADAP PEMAKAIAN KONTRASEPSI IMPLANT DI DESA XXX (BAB I, II, III, IV, V)
- KEPATUHAN IBU HAMIL DALAM MENGKONSUMSI TABLET FE DI BPS XXX (BAB I, II, III)
- FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBERIAN VITAMIN A PADA BAYI OLEH KADER DI POSYANDU WILAYAH PUSKESMAS XXX (BAB I, II, III, IV, V, VI, VII)
- KARAKTERISTIK PELAKSANAAN SENAM LANSIA DI POSYANDU LESTARI DESA XXX (BAB I, II, III, IV, V)
- PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU TENTANG TUMBUH KEMBANG BAYI DAN BALITA DI DESA XXX (BAB I, II, III, IV, V)
- PENGETAHUAN REMAJA AWAL (11-13 TAHUN) TENTANG PENGERTIAN DAN PERUBAHAN FISIK PUBERTAS DI SMP XXX (BAB I, II, III, IV, V)
- PENGETAHUAN IBU PRIMIGRAVIDA TERHADAP PERUBAHAN FISIOLOGIS PADA MASA KEHAMILAN DI BPS. XXX (BAB I, II, III, IV, V)
- PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG MENSTRUASI DI SMP XXX (BAB I, II, III, IV, V, VI, VII)
- PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU PRIMIGRAVIDA TENTANG PERSIAPAN PERSALINAN DI BPS XXXX (BAB I, II, III, IV, V)
- GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN TINGKAT PENDIDIKAN IBU YANG MEMPUNYAI BALITA (1-5 TAHUN) DI POSYANDU XXX (BAB I, II, III, IV, V)
- KARAKTERISTIK IBU HAMIL YANG MELAKSANAKAN ANTENATAL CARE DI BPS XXX (BAB I, II, III, IV)
- KARAKTERISTIK AKSEPTOR KB SUNTIK DI DESA XXXXX WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXXX (BAB I, II, III, IV, V, VI, VII)
- PENGETAHUAN IBU MENYUSUI TENTANG CARA MENYUSUI DI DESA XXX (BAB I, II, III, IV, V)
- KARAKTERISTIK AKSEPTOR KB SUNTIK DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX (BAB I, II, III, IV, V)
- GAMBARAN PELAKSANAAN KELAS IBU DI WILAYAH KERJA XXX (BAB I, II, III, IV, V)
- GAMBARAN TINGKAT KECEMASAN IBU DALAM MENGHADAPI PERSALINAN DI XXX (BAB I, II, III, IV, V, VI, VII)
- TINJAUAN PELAKSANAAN MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT UMUR 2 BULAN SAMPAI 5 TAHUN DI PUSKESMAS XXX (BAB I, II, III, IV, V)
- GAMBARAN PENGETAHUAN IBU HAMIL TRIMESTER I TENTANG EMESIS GRAVIDARUM DI RB (BAB I, II, III, IV, V, VI, VII)
- GAMBARAN PENGETAHUAN AKSEPTOR KB PIL TENTANG EFEK SAMPING PIL ORAL KOMBINASI (POK) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX (BAB I, II, III, IV, V)
- GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TERHADAP RESIKO PERKAWINAN DINI PADA KEHAMILAN DAN PROSES PERSALINAN DI DESA XXX (BAB I, II, III, IV, V, VI, VII)
- GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG SENAM HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX (BAB I, II, III, IV, V, VI, VII)
- GAMBARAN PELAKSANAAN 7T PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX (BAB I, II, III, IV, V, VI, VII)
- HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN IBU BALITA TENTANG GIZI DENGAN STATUS GIZI BALITA DI KELURAHAN XXX (BAB I, II, III, IV, V, VI, VII)
- KARAKTERISTIK IBU HAMIL DENGAN PRE-EKLAMSI DI RUMAH SAKIT UMUM XXX (BAB I, II, III, IV, V, VI, VII)
- TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG PERIKSA PAYUDARA SENDIRI (SADARI) DI SMU XXX (BAB I, II, III, IV, V, VI, VII)
- GAMBARAN PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG KEBERSIHAN ALAT KELAMIN PADA SAAT MENSTRUASI DI DUSUN XXX (BAB I, II, III, IV, V, VI, VII)
- TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG MAKANAN PENDAMPING ASI PADA BAYI USIA (6-24 BULAN) DI PUSKESMAS XXX (BAB I, II, III, IV, V)
- GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG VITAMIN A DI POSYANDU XXXXXX WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX (BAB I, II, III, IV, V)
- KARAKTERISTIK AKSEPTOR KB ALAT KONTRASEPSI DALAM RAHIM DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX (BAB I, II, III, IV, V)
- GAMBARAN PENGETAHUAN AKSEPTOR KB SUNTIK TENTANG EFEK SAMPING DEPO MEDROXYPROGESTERONE ASETAT (DMPA) DI RB XXX (BAB I, II, III, IV, V)
- GAMBARAN PENGETAHUAN REMAJA PUTRI KELAS II TENTANG DIET SEIMBANG DI SMA NEGERI XXX (BAB I, II, III, IV, V)
- FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RENDAHNYA CAKUPAN KN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX (BAB I, II, III, IV, V)
- PENGETAHUAN AKSEPTOR KB PIL TENTANG EFEK SAMPING POK (PIL ORAL KOMBINASI) DI KELURAHAN XXX (BAB I, II, III, IV, V)
- KARAKTERISTIK BALITA YANG MENDERITA ISPA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX (BAB I, II, III, IV, V)
- GAMBARAN TINGKAT KECEMASAN IBU DALAM MENGHADAPI PERSALINAN, DI BPS XXX (BAB I, II, III, IV, V, VI, VII)
- GAMBARAN PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG PERAWATAN TALI PUSAT DI DESA XXX (BAB I, II, III, IV, V)
- KARAKTERISITK AKSEPTOR KB POK (PIL ORAL KOMBINASI) DI KELURAHAN XXX (BAB I, II, III, IV, V, VI, VII)
- GAMBARAN PELAKSANAAN KEGIATAN POSYANDU DI DUSUN XXX (BAB I, II, III, IV, V)
- PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG TABLET FE DI PUSKESMAS XXX (BAB I, II, III, IV, V)
- PENGETAHUAN IBU YANG MEMPUNYAI BAYI 0-6 BULAN TENTANG MANFAAT ASI EKSKLUSIF DI BPS XXX (BAB I, II, III, IV, V)
- HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG ASI TERHADAP PEMBERIAN PASI PADA BAYI 0-6 BULAN DI PUSKESMAS PEMBANTU XXX (BAB I, II, III, IV, V, VI, VII)
- KARAKTERISTIK BALITA YANG MENDERITA ISPA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX (BAB I, II, III, IV, V)
- GAMBARAN PERSALINAN OLEH DUKUN TERLATIH DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX (BAB I, II, III, IV, V)
- PENGETAHUAN IBU TENTANG TUMBUH KEMBANG BALITA USIA 1-2 TAHUN DI DESA XXX (BAB I, II, III, IV, V)
- GAMBARAN PENATALAKSANAAN MANAJEMEN LAKTASI MASA NIFAS DINI OLEH PETUGAS KESEHATAN TERHADAP IBU-IBU POST PARTUM DI 3 BPS XXX (BAB I, II, III, IV, V)
- GAMBARAN PENATALAKSANAAN BAYI BARU LAHIR NORMAL 0-6 JAM DI BPS WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX (BAB I, II, III, IV, V, VI, VII)
- GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA TENTANG HIV/AIDS DI SMA NEGERI XXX (BAB I, II, III, IV, V, VI, VII)
- KARAKTERISTIK IBU BERSALIN DENGAN PARTUS LAMA DI RS. XXX (BAB I, II, III, IV, V)
- PENATALAKSANAAN PIJAT BAYI OLEH DUKUN PIJAT BAYI PADA BAYI USIA 1-7 BULAN DI DESA XXX (BAB I, II, III, IV, V)
- PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG TANDA-TANDA BAHAYA MASA NIFAS DI BPS XXX (BAB I, II, III, IV, V)
- PENGETAHUAN IBU PRIMIPARA TENTANG BIANG KERINGAT PADA BAYI 0-1 TAHUN DI BPS XXX (BAB I, II, III, IV, V)
- GAMBARAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX (BAB I, II, III, IV, V)
- KARAKTERISTIK IBU YANG MEMERIKSAKAN PAP SMEAR DI RUMAH SAKIT XXX (BAB I, II, III, IV, V)
- GAMBARAN AKSEPTOR KB AKDR DI KECAMATAN XXX (BAB I, II, III, IV, V)
- PENGETAHUAN IBU MENYUSUI TENTANG ALAT KONTRASEPSI KB SUNTIK DI KELURAHAN (BAB I, II, III, IV, V)
- PENGETAHUAN REMAJA PUTRI KELAS III TENTANG SEKS SEKUNDER DI SMP XXX (BAB I, II, III, IV, V)
- PENGETAHUAN REMAJA PUTRI MASA PUBERTAS TENTANG DYSMENORE DI SMP XXX (BAB I, II, III)
- GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA PUTRI TENTANG MENARCHE DI SMP NEGERI XXX (BAB I, II, III, IV, V)
- KARAKTERISTIK PASANGAN USIA SUBUR YANG TIDAK MENGIKUTI PROGRAM KELUARGA BERENCANA DI DESA XXX (BAB I, II, III, IV, V)
- PENGETAHUAN IBU MENYUSUI TENTANG PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI PADA BAYI 6 – 24 BULAN DI BPS XXX (BAB I, II, III, IV, V)
- GAMBARAN AKSEPTOR KB METODE OPERATIF PRIA (MOP) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX (BAB I, II, III, IV, V)
- GAMBARAN PENYAPIHAN ANAK KURANG DARI 2 TAHUN DI DESA XXX (BAB I, II, III, IV, V)
- KARAKTERISTIK IBU BERSALIN DENGAN PARTUS LAMA DI RS XXX (BAB I, II, III, IV, V)
- PENGETAHUAN IBU PRIMIGRAVIDA TENTANG KEHAMILAN DI RB XXX (BAB I, II, III, IV, V)
- PENGETAHUAN TENTANG BAHAYA MEROKOK PADA SISWA KELAS II SMA NEGERI XXX (BAB I, II, III, IV, V)
- GAMBARAN PENATALAKSANAAN CARA MEMANDIKAN NEONATUS 0-7 HARI TERHADAP IBU NIFAS DI BPS XXX (BAB I, II, III, IV, V)
- FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ANEMIA DALAM KEHAMILAN DI BPS XXX (BAB I, II, III, IV, V)
- PENATALAKSANAAN PENCEGAHAN INFEKSI PADA PROSES PERTOLONGAN PERSALINAN DI KLINIK XXX (BAB I, II, III, IV, V)
- CAKUPAN PEMBERIAN VITAMIN A PADA IBU NIFAS DI BPS WILAYAH KERJA XXX (BAB I, II, III, IV, V)
- KARAKTERISTIK IBU HAMIL YANG MENGKONSUMSI TABLET FE DI KELURAHAN XXX (BAB I, II, III, IV, V)
- GAMBARAN RENDAHNYA CAKUPAN PENIMBANGAN BALITA DI POSYANDU XXX (BAB I, II, III, IV, V)
- PENGETAHUAN DAN APLIKASI MAHASISWI TINGKAT II AKBID XXXXXXXXX TENTANG PARTOGRAF (BAB I, II, III, IV, V)
- GAMBARAN PENGETAHUAN PRIMIPARA TERHADAP PERKEMBANGAN BAYI 0-1 TAHUN DI KELURAHAN XXX (BAB I, II, III, IV, V, VI, VII)
- PENGETAHUAN WANITA PRA-MENOPAUSE TENTANG PERUBAHAN FISIOLOGIS MENOPAUSE (BAB I, II, III, IV, V, VI, VII)
- GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TERHADAP KEPUTIHAN DI DESA XXX (BAB I, II, III, IV, V, VI, VII)
Jadi, bisa kita simpulkan bahwa Teknologi Informasi adalah studi atau peralatan elektronika, terutama komputer, untuk menyimpan, menganalisa, dan mendistribusikan informasi apa saja, termasuk kata-kata, bilangan, dan gambar.
Perkembangan teknologi informasi khususnya internet memberi peluang kepada masyarakat untuk meningkatkan pemahaman tentang salah satu persoalan penting yang dihadapi sehari hari yaitu kesehatan. Peningkatan pemahaman tentang kesehatan ini dapat membawa pengaruh yang sangat besar terhadap cara pandang masyarakat terhadap kebiasaan hidup sehari-hari yang dapat memberikan dampak terhadap kesehatan manusia. Sebagai contoh konsumsi makanan yang menyehatkan dan penjelasan berbagai alternatif bahan obat-obatan yang dapat membantu mengobati penyakit yang sedang diderita.
Dalam melaksanakan praktik keperawatan, tentunya perawat berhadapan dengan berbagai macam kondisi klien. Pengalaman merawat klien ditatanan klinik menjadi sebuah pengalaman berharga sebagai bekal dalam menjalankan pelayanan keperawatan yang professional. Namun hal itu tentu tidak cukup, karena kondisi klien, pengetahuan klien yang meningkat, dan mudahnya akses informasi melalui teknologi informasi yang saat ini berkembang pesat, menutut perawat untuk juga mengembangkan diri untuk meningkatkan profesionalis-menya.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Di Indonesia penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) merupakan penyakit yang sering terjadi pada anak. Episode penyakit batuk pilek pada balita di Indonesia diperkirakan sebesar 3 sampai 6 kali per tahun. Ini berarti seorang balita rata-rata mendapat serangan batuk pilek sebanyak 3 sampai 6 kali setahun. Sebagai kelompok penyakit, ISPA juga merupakan salah satu penyebab utama kunjungan pasien di sarana kesehatan. Sebanyak 40 % - 60 % kunjungan berobat di puskesmas dan 15 % - 30 % kunjungan berobat dibagian rawat jalan dan rawat inap rumah sakit disebabkan oleh ISPA (Dep.Kes.RI, 2002 : 9-10).
Word Healt Organization (WHO) memperkirakan insidens Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) di negara berkembang dengan angka kematian balita diatas 40 per 1000 kelahiran hidup adalah 15 % - 20 % pertahun. Menurut WHO ± 13 juta anak balita didunia meninggal setiap tahun dimana pneumonia merupakan salah satu penyebab utama kematian dengan membunuh ± 4 juta anak balita setiap tahun (http:// syair.worpress.com/2009/04/26/faktor-resiko-kejadian-ISPA-pada-balita, diakses tanggal 13 0ktober 2009).
Kematian pada penderita ISPA terjadi jika penyakit telah mencapai derajat ISPA berat, paling sering kematian terjadi karena infeksi telah mencapai paru-paru atau pneumonia. Sebagian besar keadaan ini terjadi karena penyakit ISPA ringan yang diabaikan. Jika penyakitnya telah menjalar ke paru-paru dan anak tidak mendapat pengobatan serta perawatan yang tepat, anak tersebut bisa meninggal.
Terjadinya ISPA dipengaruhi atau disebabkan oleh berbagai macam faktor seperti virus, keadaan daya tahan tubuh, umur, jenis kelamin, status gizi, imunisasi, dan keadaan lingkungan (pencemaran lingkungan seperti asap karena kebakaran hutan, polusi udara, ditambah dengan perubahan iklim terutama suhu, kelembaban, curah hujan) merupakan ancaman kesehatan bagi masyarakat terutama penyakit ISPA. Hal ini tidak hanya disebabkan oleh faktor-faktor tersebut diatas tetapi juga dipengaruhi oleh perilaku dan tingkat jangkauan ke pelayanan kesehatan yang masih rendah.
Dengan diketahuinya faktor-faktor yang bisa menyebabkan penyakit ISPA, maka diharapkan penyakit ISPA penanganannya dapat diprioritaskan. Disamping itu penyuluhan kepada ibu-ibu tentang penyakit ISPA perlu ditingkatkan dan dilaksanakan secara berkesinambungan, serta penatalaksanaan dan pemberantasan kasus ISPA yang sudah dilaksanakan saat ini, diharapkan dapat lebih ditingkatkan lagi.
Berdasarkan uraian tersebut di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang faktor resiko terjadinya ISPA pada balit.
Untuk Selengkapnya Silahkan Download formaf zip. Semoga Brmanfaat!
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembangunan kesehatan bertujuan agar setiap penduduk mampu hidup sehat sehingga dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal, yang merupakan salah satu unsur kesejahteraan umum dari tujuan pembangunan nasional. Hal tersebut sejalan dengan tujuan sistem kesehatan nasional yaitu tercapainya kemampuan hidup sehat, melalui upaya perbaikan dan peningkatan kualitas pelayanan rumah sakit baik rumah sakit pemerintah maupun swasta. Mutu pelayanan keperawatan sangat mempengaruhi kualitas pelayanan kesehatan, bahkan menjadi salah satu faktor penentu citra institusi pelayanan kesehatan di mata masyarakat (Aditama, 2004: 45).
Keperawatan adalah salah satu profesi di rumah sakit yang berperan penting dalam penyelenggaraan upaya menjaga mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit. Pada standar tentang evaluasi dan pengendalian mutu dijelaskan bahwa pelayanan keperawatan menjamin adanya asuhan keperawatan yang bermutu tinggi dengan terus-menerus melibatkan diri dalam program pengendalian mutu di rumah sakit (Achir Yani, 2007: 1).
Hasil beberapa survei menunjukkan bahwa kepuasan pasien banyak dipengaruhi secara langsung oleh mutu pelayanan yang diberikan rumah sakit terutama yang berhubungan dengan fasilitas rumah sakit, proses pelayanan dan sumber daya yang bekerja di rumah sakit. Suryawati, dkk. (2008: 2) mengatakan bahwa sebagian besar keluhan pasien dalam suatu survei kepuasan menyangkut tentang keberadaan petugas yang tidak profesional dalam memberikan pelayanan kesehatan diantaranya masih terdengar keluhan akan petugas yang tidak ramah dan acuh terhadap keluhan pasiennya. Selain itu juga masih sering terdengar tentang sulitnya meminta informasi dari tenaga kesehatan terutama dokter dan perawat, sulitnya untuk berkomunikasi dua arah dengan dokter, dan lain sebagainya yang mencerminkan betapa lemahnya posisi pasien sebagai penerima jasa pelayanan kesehatan.
Penelitian Pardani di rumah sakit Pemerintah kelas A di Surabaya tahun 2001, dengan menggunakan 100 orang pasien rawat inap menunjukkan bahwa 50% mengatakan puas terhadap pelaksanaan asuhan keperwatan; 25% cukup puas 25% dan tidak puas sebesar 25%. Penelitian Wirawan tahun 2000 tentang tingkat kepuasan pasien rawat inap terhadap asuhan keperawatan di sebuah rumah sakit di Jawa Timur juga menunjukkan hanya 17% dari seluruh pasien rawat inap yang mengatakan puas terhadap asuhan keperawatan, sedangkan 83% menyatakan tidak puas. Penelitian tersebut juga memberikan informasi bahwa keluhan utama pasien terhadap pelayanan keperawatan adalah kurangnya komunikasi perawat (80%), kurang perhatian (66,7%) dan kurang ramah (33,3%).
Kemudian penelitian Damayanti tentang harapan dan kepuasan pasien di sebuah rumah sakit pemerintah di Surabaya pada tahun 2000 yaitu dengan mengambil sampel 48 responden di UPF interna dan Paviliun menunjukkan bahwa pasien lebih mengharapkan kesabaran dan perhatian dari kinerja tenaga keperawatan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 41% responden mengatakan kurang puas dengan pelayanan rumah sakit dan sebanyak 59% sisanya menyatakan puas. Khusus terhadap kinerja perawat, keluhan terbesar adalah perawat jarang menengok pasien bila tidak diminta dan bila dipanggil tidak segera datang (perawat datang sekitar 10 menit).
Hasil beberapa survey dan riset tersebut menunjukkan kondisi ketidakpuasan pasien terhadap pelayanan keperawatan. Hal itu terjadi nampaknya karena dinamika tuntutan pasien yang demikian cepat berubah namun tidak diimbangi dengan kecepatan perubahan pola kerja dan tindakan perawat. Perawat lebih banyak berfokus pada kinerja medik atau teknik keperawatan (pelaksanaan fungsi dependen atau fungsi pelimpahan dari dokter) padahal pasien nampaknya justru mengharapkan kinerja perawat sesuai normatifnya yaitu lebih berfokus pada aspek yang berkaitan dengan dimensi non teknik keperawatan (pelaksanaan fungsi independent). Nightingale dalam Potter dan Perry, (2001) merumuskan bahwa sebagai fokus dari nursing care adalah lingkungan, dimana perawat harus lebih berorientasi pada pemberian ketenangan, kenyamanan dan nutrisi yang memadai kepada pasien bukan pada proses penyakitnya atau pada pengobatannya.
Untuk Selengkapnya silahkan Download Format Zip. Semoga Bermanfaat!
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Salah satu stategi pembangunan kesehatan nasional untuk mewujudkan “ Indonesia Sehat 2010 “ adalah menerapkan pembangunan berwawasan kesehatan, yang berarti setiap upaya program pembangunan harus mempunyai kontribusi positif terhadap terbentuknya lingkungan yang sehat dan perilaku sehat. Sebagai acuan pembangunan kesehatan mengacu kepada konsep “ Paradigma Sehat “ yaitu pembangunan kesehtaan yang memberikan prioritas utama pada perlayanan peningkatan kesehatan (promotif) dan pencegahan penyakit ( preventif ) dibandingkan dengan upaya pelayanan perngobatan ( kuratif ) dan pemulihan ( rehabilitative ) secara menyeluruh dan terpadu sertta berkesinambungan ( Depkes RI, 2005 ).
Selaras untuk mewujudkan Visi Indonesia Sehat 2010 secara umum dan Visi Kalimantan Selatan Sehat 2010 secara khusus adalah dengan melaksanakan salah satu Misi Program Pembangunan Kesehatan di Kalimantan Selatan yaitu Menggerakan pembangunan berwawasan kesehatan, Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat, Memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau, Memelihara dan meningkatkan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat beserta lingkungannya. Salah satu upaya yang dilakukan dalam menigkatkan pelayanan kesehatan adalah melaksanakan kegiatan posyandu.
Posyandu merupakan kegiatan rutin bulanan yang bertujuan untuk memantau peertumbuhan berat badan anak balita dengan menggunakan kartu menuju sehat ( KMS ) ; memberikan konseling gizi ; memberikan pelyanan kesehatan dasar ( imunisasi dan penanggulangan diare ). Dengan diadakannya posyandu setiap bulan maka dapat dipantau pertumbuhan dan perkembangan kesehatan balita setempat sehingga diharapkan kesehatannya terpantau dan terpelihara agar menjadi sumber daya manusia yang sehat dan berkualitas serta mencegah sedini mungkin terjadinya gizi kurang/buruk.
( Sutadi Heri, 2007 ).
Pentingnya pertumbuhan pada anak balita mendorong pemerintah melakukan integrasi penimbangan rutin kedalam kegiatan posyandu bersama program lain. Fakta menunjukkan keaktifan masyarakat dalam melakukan monitoring pertumbuhan anaknya diposyandu semakin hari semakin menurun.
Dari penjajakan awal pada tanggal 7 September 2009 posyandu bulan Juli jumlah Balita hadir sebanyak 25 Balita (22,7%) dari 110 Balita yang ada, bulan Agustus 37 Balita (41%) yang hadir dari 90 jumlah Balita yang ada, sedangkan bulan September sebanyak 25 Balita (27%) dari 90 Balita yang ada dan terdapat 6 orang balita ( 0,04% ) BGM ( bawah garis merah ). Sedangkan dari studi pendahuluan yang dilakukan penulis dengan observasi hanya 26 orang (21,3%) balita saja yang dibawa ibunya keposyandu
Dari 90 orang balita yang ada didesa pariok kecamatan candi laras utara.
Masalah tersebut disebabkan oleh banyak faktor seperti tingkat pengetahuan ibu balita yang kurang dalam merawat balitanya dikarenakan kurang memanfaakan kegiatan posyandu. Sangat pentingnya perawatan balita yaitu dengan melakukan penimbangan dan konsultasi kesehatan serta pemanfaatan posyandu agar diketahui adanya kelainan atau penyakit sedini mungkin.
Adanya Balita BGM dan kurangnya junlah kunjungan ibu balita dalam posyandu mungkin disebabkan ketidaktahuan ibu balita dalam merawat balitanya serta kurang memahami manfaat posyandu, padahal dari pengetahuan seseorang akan dapat diketahui bagaimana dengan pengetahuan yang dimiliki ia bisa mencegah tidak terjadinya Balita BGM ataupun kematian balita, karean dari pengetahuan yang baik akan menghasilkan sikap dan tindakan yang baik pula.
Untuk Selengkapnya silahkan Download Format Zip. SEMOGA BERMANFAAT!











