Mengenal Sistem NEUROBEHAVIOUR

Kamis, 15 September 2011


Neurobehavior adalah hubungan antara fungsi otak dengan perilaku dan proses berpikir manusia. Neurobehavior terkait dengan pola perilaku hidup seseorang yang berhubungan dengan sistem neural (sistem saraf) seperti pola tidur, mood atau suasana hati, stress, nafsu makan dan kesadaran diri. Fungsi luhur ini sangat vital bagi kehidupan manusia dewasa akhir,dewasa tengah,dewasa muda dan teristimewa bagi anak-anak. neurobehavior sangat berperan terhadap pertumbuhan dan perkembangan fisik dan mental pada manusia.
Keterkaitan antara neurobehavior dengan pertumbuhan dan perkembangan fisik dan mental dapat digambarkan sebagai berikut:
- Pola tidur dan kualitas tidur yang baik akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan otak anak (kecerdasan) dan pertumbuhan fisik yang baik.
Suasana hati akan berpengaruh terhadap kesiapan anak untuk menerima stimulus dari lingkungan dan memberikan respon yang tepat terhadap stimulus tersebut (proses belajar).
- Stress pada anak akan berpengaruh terhadap perkembangan mental anak. Jika anak mengalami stress, maka kemampuan kognitif (kemampuan yang berhubungan dengan kecerdasan), kemampuan afektif (kemampuan berhubungan dengan sesama manusia dan lingkungan) dan kemampuan psikomotorik (kemampuan gerak) akan terganggu. Anak akan kesulitan untuk menerima stimulus dan memberikan respon terhadap stimulus tersebut.
- Nafsu makan tentunya akan mempengaruhi konsumsi makanan dan total asupan gizi anak. Jika asupan gizi baik, maka pertumbuhan fisik dan mental akan baik pula.
Kesadaran diri terkait dengan kemampuan anak untuk memahami konsep diri, lingkungan dan hubungannya. Kesadaran diri lebih terkait dengan perkembangan mental anak.
Fungsi neurobehavior ini diatur oleh hormon yang diproduksi dalam otak, yaitu hormon Serotonin (5-Hydroxy-Typtamine). Hormon Serotonin diproduksi dari prekursornya, yaitu asam amino Triptofan. Asam amino Triptofan merupakan asam amino esensial yang tidak dapat disintesis dalam tubuh dan harus diperoleh dari makanan. Sumber Triptofan terutama adalah makanan berprotein tinggi, terutama protein hewani seperti daging, unggas, ikan, susu dan telur.
Rasio Triptofan tertinggi terdapat di protein Alfa-Laktalbumin dibandingkan dengan jenis protein lainnya (kasein, protein kedelai dan Beta-Laktoglobulin). Alfa-Laktalbumin merupakan senyawa protein yang secara alami terdapat dalam ASI. Penelitian yang dilakukan oleh Markus et.al (2002) dan Bork (2004) menunjukkan bahwa Alfa-Laktalbumin dapat membantu produksi hormon Serotonin dan membantu memperbaiki neurobehavior seperti pola tidur (kualitas tidur yang lebih baik), mood, stress, nafsu makan dan kesadaran diri.
Selain Triptofan, suasana hati juga dipengaruhi oleh vitamin B Kompleks. Kekurangan Vitamin B Kompleks sering dicirikan dengan suasana hati yang kurang baik dan tidak bersemangat. Vitamin B Kompleks sangat penting untuk kesehatan otak karena Vitamin B Kompleks bertugas mengatur homosistein, asam amino yang secara alami diproduksi oleh tubuh. Tingginya kadar homosistein dalam darah akan menyebabkan peradangan, kerusakan pembuluh darah dan merusak sel otak. Selain itu, tingginya kadar homosistein dalam darah juga akan mempengaruhi kecepatan psikomotorik atau kemampuan tubuh untuk melakukan gerak, baik psikomotorik kasar (berjalan, berlari, dsb) atau psikomotorik halus (menulis, membaca, dsb) (Perlmutter 2004).
Alfa-Laktalbumin, Triptofan dan Vitamin B Kompleks akan membantu membentuk neurobehavior yang baik. Dengan neurobehavior yang baik serta pola pengasuhan dan pembelajaran yang baik pula diharapkan akan membantu membentuk anak yang sehat, cerdas dan memiliki mental yang baik.
Jika seseorang mengalami gangguan Neurobehaviour maka akan mengganggu ”Performance Skill” yang berhubungan dengan aktifitas kehidupan sehari-hari (AKS), Produktifitas dan aktifitas ” Leisure”. Untuk mengatasi hal tersebut maka harus dibutuhkan penanganan team medis yang terpadu. Team medis yang terlibat disini ada dokter saraf, dokter anak, dokter spesialis rehabilitasi medis yang di bantu oleh fisioterapi, okupasi terapi, terapi wicara dan ortotik protestik dan psikolog.Jika penangannya dilakukan secara team maka hasil yang dicapai akan maksimal sesuai kondisi seseorang yang mengalami gangguan neurobehaviour seperti Gangguan hiperaktifitas,gangguan kosentrasi, autis, gangguan belajar dan kondisi-kondisi lainnya.


DAFTAR PUSTAKA
- Bork R. 2004. Alpha-Lactalbumin as Functional Ingredient. IUFost Symposium. Shanghai.
- Markus CR, Olivier B & de Haan EHF. 2002. Whey Protein Rich in Alpha-lactalbumin Increases The Ration of Plasma Tryptophan to The Sum of The Other Large Neutral Amino Acid and Improves Cognitive Performance in Stress Vulnerable Subjects.
- Am. J. Clin. Nutr., Vol. 75, No. 6, 1051 – 1056.
- Perlmutter D, Colman C. 2004. The Better Brain Book. New York: Riverhead Books.
- Perlmutter D, Colman C. 2004. The Better Brain Book. New York: Riverhead Books.
- Steinberg LA, O’Connel NC, Hatch TF, Picciano MF & Birch LL. 1992.
- Tryptophan Intake Influences Infant’s Sleep Latency. J. Nutr. 122:1781 – 1791.

Artikel yang berkaitan



Poskan Komentar